Minggu, 17 Juni 2012

Budaya Ingin Cepat Kaya (Get Rich Quick)


Hampir semua orang ingin menjadi kaya. Tentunya dengan cara yang terhormat dan halal, agar apa yang diperolehnya menjadi berkah dan bermanfaat. Bukan dengan jalan pintas  atau instant yang bisa dicapai tanpa kerja keras dan  cerdas.
Hal ini juga sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa semuanya harus melalui proses. Dengan proses dan kerja keraslah sebenarnya yang membawa kebanggaan bangsa ini. Lihat saja budaya kita yang terkenal di seanterao dunia adalah budaya yang lahir dari proses kreatif dan kerja keras, karena kita tidak malas untuk berkeringat.
Tapi kenapa kita jadi kehilangan akal dan menggantinya dengan budaya instant dan jalan pintas untuk menjadi kaya? Budaya instan ini justru menjadikan kita bangsa yang kerdil, karena budaya jalan pintas ini sebenarnya tak ada dalam kamus sejarah bangsa Indonesia. Demikian dengan kemerdekaan kita, yang diraih dengan tetesan darah, kehilangan nyawa serta keringat bukanlah hibah dari penjajah. Sungguh budaya jalan pintas ini memberikan suri teladan yang amat buruk bagi anak bangsa ini. Padahal Bapak bangsa selalu mengingatkan untuk terus menggali kekayaan kita yang berlimpah dengan cara bekerja keras dan cerdas serta menghargai proses dalam menggapai suatu cita-cita.
Peristiwa ini mengingatkan kita pada Koperasi abal-abal ala Koperasi Langit Biru (KLB)atau penipuan yang berkedok investasi (investasi bodong) PT Gradasi Anak Negeri(GAN). Walau koperasi baru berdiri tahun lalu, KLB sudah menjaring uang Rp 6 triliun dari 140 ribu nasabahnya. Begitu juga dengan terungkapnya penipuan oleh PT GAN pekan lalu. Hanya dalam waktu lima bulan saja PT GAN mampu menggaet 21 ribu investor. Total dana yang terkumpul oleh PT GAN ini mencapai Rp 390 miliar dengan investasi paling sedikit per nasabahnya Rp5 juta dengan dijanjikan uangnya bisa berlipat hingga puluhan juta dalam waktu relatif singkat (Editorial Media Indonesia, 11 June, 2012).
Praktik itu jelas telah menunjukkan tumbuh suburnya budaya instant atau budaya ingin cepat kaya (Get Rich Quick), yang semakin melenakan masyarakat kita. Meski kita punya uang yang sebenarnya bisa dipakai untuk berusaha, namun masyarakat lebih suka mendapatkan langsung tanpa perlu bersusah payah. Budaya instan ini pulalah yang menyuburkan praktik korupsi di negeri ini dengan menilep uang rakyat maupun  dengan menduduki jabatan atau kekuasaan dengan cara instant. Tentunya dengan cara berbuat curang, baik dalam pemilu maupun pemilu kada.
Walaupun keajabaiban atau miracles itu  ada, tapi tidak berlaku untuk semua orang. Makanya bagi kebanyakan dari kita, memang harus berakit-rakit ke hulu dan berenang-renang ke tepian. Kenapa kita jadi begitu mudah terpengaruh oleh iming-iming yang tidak masuk akal? Jangankan ingin cepat kaya, untuk makan siang pun tidak ada yang gratis. Suatu anekdot yang tepat untuk menggambarkan ini, “There is no such thing as a free lunch”. Ini jelas suatu sindiran bahwa sebenarnya semua harus dilalui dengan pengorbanan, apalagi kalau kita mau menjadi kaya. Pantaslah orang-orang kita jaman dahulu menyebutnya: “Jer Basuki Mowo Beo” yang intinya kalau kita menginginkan sesuatu, harus dimulai dengan menanam dan merawatnya, bahkan dibutuhkan biaya baik waktu, tenaga, pikiran dan terkadang juga uang.
Semoga kita bisa belajar dari pengalaman masa lalu dan mengambil hikmah serta menjadikan kita lebih berhati-hati  dalam menerima semua tawaran yang ada. Kalau kita merasa tawaran itu seolah-olah it’s too good to be true, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Tak ada salahnya kita untuk bersikap skeptis dan tidak percaya. Daripada kita akhirnya menjadi korban atau mangsa. Bagaimana menurut Anda???
Selamat Beraktivitas dan Terima kasih

Sumber : kompasiana.com

Waspadalah..! Ada Penipuan Pada Kredit Pemilikan Kendaraan


Beberapa waktu lalu di sebuah pengajian, saya bincang-bincang sejenak sebelum acara dimulai dengan salah seorang peserta lain yang datang dari kelurahan  sebelah. Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai wirausahawan sebagai mata pencaharian tetapnya. Sepintas ia terlihat berkecukupan dari sisi finansialnya.

Btw dia baru saja menyetor/menyertakan modal 100 juta untuk sebuah koperasi yangbidang usahanya membantu masyarakat untuk membeli kendaraan secara tunai dengan harga yang sangat murah. Kepada saya, ia mempromosikan usahanya jika ingin membeli kendaraan bermotor secara tunai cukup dengan bayar 70% saja melalui koperasinya, tetapi BPKBnya baru diberikan setelah 3 tahun.
Dari penjelasan dia, skenario pembiayaannya sebagai berikut :
Misalnya calon pembeli ingin punya motor seharga 15 juta, cukup membayar 70%nya sebesar 10,5 juta. Oleh koperasinya, uang itu dibelikan motor secara mencicil atas nama sipembeli dengan uang muka 20% (3juta) dan sisanya yang 50% (7,5 juta) digunakan untuk memodali kegiatan lain yang frofitnya sangat tinggo,kemudian keuntungannya dipakai untuk mencicil motor tersebut. Dengan demikian, koperasi dapat membantu sipembeli untuk terbebas dari beban cicilan bulanan sampai lunas dalam 3 tahun.
Sebagai basa-basi, saya menanyakan “kalau koperasi itu gagal dalam menjalankan usahanya dan tidak mampu membayar cicilan motor bagaimana?”. Bapak yang oleh temannya dipanggil Pak Haji ini bilang bahwa bisnis yang dilakukan koperasi itu tidak akan gagal karena didukung oleh relasi dengan orang-orang penting. Ia tidak menyebutkan bidang usaha yang dijalankannya.
Alih-alih tertarik, saya malah mencurigai kalau ini adalah penipuan. Karena kasihan sama Pak haji itu, saya meminta waktu dia sebentar setelah selesai pengajian tersebut dengan pura-pura menunjukkan ketertarikan. Di situ saya saya mengetahui bahwa sesunggunya iapun tidak tahu persisnya mengenai bidang apa yang digarap koperasi itu. Ia ikut menyertakan modal karena ajakan beberapa ustad lain yang ia anggap lebih senior yang juga sudah menginvestasikan uangnya di situ.
Ke Pak Haji itu saya sampaikan logika kecurigaan saya terhadap koperasi tersebut, karena siapapun kalau menemukan bisnis yang menggiurkan tidak akan ngajak-ngajak orang. Modal itu bukan perkara sulit selama dapat membuktikan bahwa bisnis itu berprofit tinggi sehingga tidak mungkin menggalang dana dari orang yang akan membeli motor yang pasti ngurusnya akan jelimet.
Ketika pak haji tampak sepakat dengan pemikiran saya, saya menyarankan beliau untuk segera menarik dana yang sudah ditanamnya secepat mungkin. Sampai artikel ini ditulis, khabarnya pak haji itu masih kesulitan menghubungi pihak koperasi tersebut.
Untuk para pembaca kompasianer, waspadalah terhadap modus bantuan lembaga keuangan untuk pengadaan kendaraan bermotor seperti itu…..

Sumber : kompasiana.com

Apakah Orang Tetap Miskin Karena Pilihan Sendiri?


Kadang saya bertanya2 sendiri apakah orang miskin tetap miskin karena faktor diluar kontrol mereka. Apa benar mereka tetap miskin karena kurang mendapat kesempatan yg layak?
Atau karena mereka sendiri orangya malas, maunya menyalahkan pihak luar dan berharap pemerintah, boss dan pihak luar lain yg menarik mereka keluar dari kemiskinan?

Dari satu pengalaman ini setidaknya saya bisa mengintip cara berpikir ‘orang miskin’. Bulan Febuari kemarin saya membantu orang tua pindah rumah. Kami meminta bantuan 3 pegawai toko tetangga untuk membantu angkat barang2 furniture dsb. Saya ikut membantu mengangkat dan merasakan sendiri betapa melelahkannya pekerjaan mereka. Ketika semua pindahan sudah beres saya bilang ke ortu bayar mereka lebihan, kasihan mereka udah capek2 lagian kitakan gak tiap hari pindahan. Ortu menolak, alasannya: “Gak enak ama tetangga kalau kita bayarnya lebih dari gaji harian yg dia bayar, lagian takut mereka gak datang kerja besok”.  Tapi saya tetap ngotot dan mereka dibayar lebih paling tidak 3x lipat dari gaji harian di toko.
Besoknya, beneran saja 2 dari 3 orang pegawai kemaren tidak masuk kerja. Yg masuk kerja si supir yg memang terkenal rajin dan jujur. Melihat ini saya amat sangat kecewa. Maksud baik ingin membantu agar mereka bisa nabung dan menyiapkan masa depan malah ngeyel. Pemilik toko malah gak heran sama sekali dengan kejadian seperti ini. Menurut ortu (sebagian) wong kecil mikir duit cuma untuk sehari lewat sehari tidak berpikir jauh untuk masa depan. Kalau pikirannya seperti itu jelas tetap miskin gak peduli brapa penghasilannya!
Dalam kasus lain pembantu teman saya ngutang gaji 3 bulan untuk beli HP terbaru yg belom tentu dia ngerti dan perlu untuk profesi dia. Alasannya: untuk pamer waktu pulang kampung kalau dia sudah ‘sukses’ merantau . Dalam kehidupan sehari2 saya juga melihat tukang bajaj, angkot yg menghabiskan duitnya untuk rokok dan taruhan kecil2an main kartu bukannya untuk menyekolahkan anaknya.
Salah Siapa?

Apakah fair menyalahkan mereka atas kemiskinan mereka? Mungkin saja diantara kita ada yg berpendapat bahwa mereka itu gak berpendidikan jadi maklum saja kalau gak bisa atur duit jadi harus dikasihanin.
Atau mungkin dari contoh diatas kita pantas menyalahkan teman saya yg membiarkan pembantunya ngutang gaji 3 bulan? “Terserah dialah gajinya mau diapain emank gue financial planner dia!“. Mungkin kata temen saya kalau ditanya hehe.
Atau budaya sekitarnya yg begitu mendewakan materialisme dan gengsi sebagai lambang kesuksesan hingga wong kecil pun terhanyut setidaknya ingin ‘mencicipi’?
Entahlah. Tapi satu hal yg pasti: memberi uang ke orang yg bermental miskin tidak akan menyelesaikan masalah kemiskinan. Baca berita ini kalau mau tahu lebih lanjut. Uang hanya menunda kebangkrutan bagi mereka yg bermental miskin!
Dari pengalaman dan pengamatan diatas setidaknya saya belajar untuk tidak naïf. Dulu saya percaya setiap orang miskin pasti mau dan berusaha keluar dari kemiskinan. Saya rasa pendekatan yg bersifat mendidik jauh lebih bermanfaat daripada memberikan uang.
Beri mereka ikan maka anda memberi mereka makan untuk sehari, ajarkan mereka memancing maka anda akan memberi mereka makan seumur hidup”. – Pepatah Tiongkok

Sumber : kompasiana.com

Uang bukanlah segalanya, namun tanpa uang segalanya tidak bisa apa-apa


Apa itu uang ?
Uang adalah alat tukar atau pembayaran yang dapat diterima secara umum sehingga dengan uang kita dapat menukarkannya dengan apa yang diinginkan untuk menunjang kehidupan yang layak. memiliki banyak harta , rumah bagus, mobil bagus dan lain sebagainya.

Nah bagaimana kalau tidak punya uang?
Tentu saja apa yang diinginkan untuk hidup layak tidak dapat terpenuhi. Untuk itulahbanyak yang berlomba-lomba mengumpulkan uang untuk memenuhi keinginannya memiliki rumah bagus, mobil bagus dan lain sebagainya.
Tidak sedikit yang bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang, karena dengan uang segalanya dapat dilakukan. Apabila berhasil menumpuk kekayaanmereka beranggapan bahwa mereka berhasil dalam kehidupannya, sukses dalam hidupnya,  dengan uangnya mereka bisa berbuat apa saja.
Bahkan ada sebuah ungkapan yang mengatakan,” Dengan uang kebenaranpun akan diam, karena uang mampu membungkam kebenaran.”
Demi uang pula orang bersedia melakukan apa saja, tanpa memperdulikan apakah halal atau haram, melakukan korupsi, menerima suap, kong kalingkong dengan pejabat terkait untuk mendapatkan proyek karena menganggap bahwa uang adalah segala-galanya.
“You are, what you eat.” Anda adalah apa yang Anda makan. Demikian kata sebuah ungkapan.
Apa hukumannya bagi yang  memakan uang haram, uang hasil korupsi, uang hasil kong kalingkong dengan pejabat, seperti para koruptor yang menggerogoti uang rakyat?
Hukuman didunia, tidak sedikit pula yang masuk hotel prodeo atau bui gara-gara uang.Mulai dari kalangan DPR, mantan Menteri, mantan Gubernur, mantan Bupati termasuk kalangan pengusaha.
“Orang yang memakan uang haram maka setiap sel yang ada di tubuhnya adalah tempat bersemayam setan-setan. Maka para koruptor tidak akan pernah menjadi baik sampai akhir hayatnya karena semua gerak tubuhnya, langkah kakinya, rasa hatinya, dan isi pikirannya, digerakkan oleh setan-setan yang bersemayam dalam sel-sel tubuhnya.
Hukuman di akhirat, orang yang memakan harta orang lain secara tidak sah maka di akhirat nanti Tuhan akan menaruh tungku api yang menyala-nyala dalam tubuhnya. Api itu akan membakar seluruh tubuhnya dari dalam.”  Demikian tulis Komaruddin Hidayatdalam sebuah kolom.
Kalau sel-sel tubuhnya bersemayam setan-setan. Bagaimana dengan anak keturunannya? Tidak mustahil juga menjadi tempat bersemayamnya para setan-setan. Sehingga melahirkan para koruptor generasi kedua.
Seperti sebuah ungkapan yang menyatakan, “ Like father, like Son.   ” Sungguh mengerikan !!!!
Sebaliknya, bagaimana kalau kebanyakan uang?
Yang jelas pada waktu meninggal, sebanyak apapun uang yang dimiliki Anda tidak akan dapat membawanya.
Ada yang beraggapan bahwa dengan banyak uang membuat hidupnya bahagia, ternyata kebanyakan uang bukan jaminan juga hidupnya akan bahagia, karena kebanyakan uang bisa menimbulkan kecemasan-kecemasan, seperti bagaimana kalau terjadi pemotongan uang atau sanering seperti tahun 1965, uang seribu menjadi satu rupiah? atau bagaimana kalau terjadi redenominasi uang satu juta menjadiseribu? Apalagi kalau uangnya hasil korupsi, bagaimana kalau diketahui oleh PPATK? (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Jadi kebahagian bukan ditentukan oleh besarnya uang yang dimiliki namun sangat ditentukan oleh bagaimana sikap kita terhadap uang.
Nah, bagaimanakah sebaiknya bersikap terhadap uang ??
Secara sederhana, berapa besar gaji yang diterima pada waktu pertama kali di terima bekerja di sebuah Perusahaan?
Kemudian, apakah dengan gaji yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup?
Kalau sudah merasa cukup, kita akan berusaha untuk mencukupkannya berapapun besarnya gaji yang diterima, namun sebaliknya apa bila merasa kekurangan, berapapun besarnya gaji yang diterima akan selalu merasa kekurangan.
Selanjutnya berapa besarnya gaji yang diterima saat ini, apakah sudah mencukupi?  Silahkan di jawab sendiri.
Jadi sikap yang pertama terhadap uang adalah mencukupkan apa yang telah diterima.
“Miliki alasan yang kuat setiap kali Anda mengeluarkan uang.” Dan Benson
Berikutnya, buatlah skala prioritas pada setiap pengeluaran. Mulai dari kebutuhan dengan skala prioritas tinggi hingga skala prioritas paling rendah, bedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan sedangkan keinginan itu perihal keinginan yang tidak akan ada habisnya. Setelah mempunyai mobil satu, ingin dua, setelah mempunyai rumah satu, ingin dua, dstnya.
Belanjakan uang secara cerdas, mulai dari kebutuhan dengan skala prioritas tinggihingga paling rendah. Jadi sikap yang kedua terhadap uang adalah setiap rupiah uang yang dikeluarkan dipertimbangkan secara bijak berdasarkan skala prioritas.
Harus menyadari bahwa pada dasarnya kita tidak punya daya upaya selain Allah SWT semata, kita tidak mempunyai kemampuan apa-apa kalau bukan datangnya dari Allah SWT semata, kemampuan kita untuk memperoleh uang juga datangnya dari Allah SWT semata.
Semua yang kita miliki termasuk uang adalah titipan yang dipercayakanNya kepada kita, yang harus  dikelola dan dipertanggung jawabkan padaNya, Bagaimana uang diperoleh? Bagaimana uang dikelola?   Untuk apa uang dibelanjakan. Apakah sudah sesuai dengan petunjukNya? Sebagai umat muslim di wajibkan menyisihkan sebagian penghasilannya sebesar 2,5% untuk shodaqoh.
Semakin banyak yang dishodakohkan, semakin dipercaya, semakin dipercaya–>semakin ditambah,  semakin ditambah–> semakin banyak.
“The more you give, the more you get in return.”

Sumber : kompasiana.com

Kaya Dengan Menghabiskan Gaji


Banyak orang sering merasa dilema saat ingin membeli sesuatu. Khawatir tabungannya berkurang atau apakah uangnya cukup sampai akhir bulan. Meskipun lebih banyak orang yang tidak peduli, karena mereka bisa mengatasinya dengan cepat yaitu hutang atau yang lebih keren gesek kartu kredit.
Namun jika Anda termasuk golongan pertama yangtidak suka memiliki hutang termasuk kartu kredit, ini jurusnya. Perencana Keuangan Ahmad Gozali menganjurkan untuk tidak menyisakan uang gaji .

Lho bagaimana, mau belanja saja khawatir uangnya tidak cukup sampai akhir bulan, malah menghabiskan gaji. Tentu tidak asal menghabiskan gaji. Ada perlakuan khusus terhadap gaji anda.
Cara pertama yang bisa dilakukan adalah mengatur persentase pengeluaran ke berbagai pos, karena kita harus mencukupi kebutuhan hidup untuk hari ini dan masa depan. Ini harus dilakukan awal bulan setelah menerima gaji bukan pada akhir bulan.
Untuk mempermudah sebagai contoh cashflow bulanan yang terbagi atas :
Zakat : min 2,5%
Hutang : maks 30%
Asuransi murni, Dana Darurat, Investasi : min 10%
Kebutuhan Rutin (harian,bulanan dan Tahunan) : maks 37,5%
Gaya Hidup maks 20%
Dengan membiasakan pengaturan pos-pos ini, memaksa diri untuk disiplin anggaran. Sebab jika tidak ada kedisiplinan anggaran, maka kenaikan gaji atau pendapatan tidak akan berarti. Jika ada kenaikan gaji maka otomatis investasi juga naik. Jadi menabung bukan sisa gaji akhir bulan tetapi betul-betul investasi yang direncanakan. Kalau harus menunggu sisa gaji di akhir bulan biasanya tidak akan ada. Disamping itu anda bisa menaikkan pengeluaran gaya hidup saat pendapatan naik tanpa merasa bersalah.
Tentu tidak mudah mengatur hal sepele di atas. Kebiasaan hidup tanpa perencanaan keuangan yang sudah berbulan-bulan atau bertahun-tahun memang sulit diubah begitu saja. Mengaturnya mungkin bisa, tetapi konsisten dengan mata anggaran itu yang sulit. Terutama bagi karyawan dengan gaji rendah.
Apalagi setelah dibagi dalam berbagai pos sesuai prosentase di atas, ternyata dana untuk membayar hutang jauh lebih besar. Kalau itu yang terjadi tidak perlu panic. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan penghematan. Cara yang dapat dilakukan untuk melakukan penghematan dimulai dengan mencatat semua pengeluaran . Setiap habis belanja langsung tuliskan pada media yang disukai seperti buku kas, komputer , atau smartphone. Tersedia juga program-program freeware pengaturan uang keluarga yang bisa diunduh melalui internet.
Dengan mencatat semua pengeluaran, anda bisa memilah dan menghitung beberapa pengeluaran yang tidak efektif. Pengeluaran yang tidak efektif coret dan diusahakan jangan diulang pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian anda bisa menghemat. Penghematan ini gunakan untuk menutup pos hutang.
Setelah berhasil mengurangi hutang mulailah menetapkan pos anggaran asuransi dan investasi atau menabung. Berapapun prosentasenya, tidak masalah kurang dari 10%. Selanjutnya sisa gaji setelah dikurangi pos zakat , hutang, dan menabung, masukkan semua ke dalam belanja rutin dan gaya hidup.
Jika semula belanja tidak pernah dianggarkan, tidak pernah direncanakan dengan detail. Saatnya merencanakan dengan detail berdasarkan catatan belanja bulan sebelumnya. Disini anda bisa menghabiskan gaji dengan bijaksana.
Pencatatan terus dilakukan guna mengevaluasi sejauh mana kemampuan menepati anggaran dan perencanaan. Hal ini terus anda lakukan sampai suatu saat bisa tepat anggaran. Akhirnya belanja tidak menjadi takut lagi karena sudah sesuai dengan perencanaan. Tidak ada rasa was-was apakah uang tabungan berkurang atau gaji tidak sampai akhir bulan.
Pos-pos bisa terus ditambahkan seiring dengan kepandaian mengatur pengeluaran seperti membagi pos investasi untuk dana pendidikan dan dana pensiun. Akhirnya andadapat menata kehidupan lebih terarah sesuai dengan tujuan dan cita-cita yang diangankan.
Trik seputar pengaturan pos belanja
Tidak semua orang telaten mencatat berapa pengeluaran yang sudah dibelanjakan. Dan tidak mudah mengikuti perencanaan belanja. Tetapi saya tetap menganjurkan anda untuk mencatat pengeluaran selama 1 bulan untuk acuan bulan berikutnya.
Jika anda memang kurang telaten mencatat yang dapat dilakukan bila pendapatan masih kecil cukup dengan metode amplop. Setelah terima gaji siapkan amplop-amplop pos anggaran. Masing-masing amplop diberi identitas. Bagi uang gaji sesuai prosentase yang sudah ditetapkan dan masukkan pada amplop yang sesuai. Anda tinggal mengambil dari amplop yang sesuai setiap akan melakukan pengeluaran. Jadi bisa menghitung sisa uang anggaran masing-masing pos. Saatnya mengerem bila ternyata persediaan diperkirakan tidak cukup sampai akhir bulan.
Tetapi jika pendapatan anda sudah cukup besar dan kurang telaten mencatat, maka langkah pemisahan rekening belanja bisa dilakukan. Biasanya seseorang memiliki lebih dari satu rekening. Atau kalau Anda sudah akrab dengan e-bangking tersedia fasilitas pembagian dana dalam beberapa pos atau folder cukup dengan satu rekening.
Berdiskusi dengan pasangan dalam mengatur belanja akan menjadi kegiatan yang menyenangkan, apalagi bagi pasangan yang sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Termasuk berdiskusi mengevaluasi pengeluaran rutin bulanan, membicarakan biaya tahunan kapan harus membayar pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan dan berapa tagihan kartu kredit. Dengan demikian beban rumah tangga bukan hanya menumpuk kepada suami atau istri saja. Bahkan jika sudah memungkinkan anak juga harus mulai diikutkan dalam pembicaraan mengenai keuangan ini. Disini seorang anak mendapatkan pendidikan untuk bertanggungjawab terhadap pengeluaran yang ia lakukan. Bukan hanya minta dan minta.

Sumber : kompasiana.com

Tips Mendapatkan Pekerjaan Setelah Lulus Kuliah/Sekoah


Banyak kita temui mahasiswa/lulusan SMA sederajat yang baru lulus terpaksa menunggu beberapa lama untuk mendapatkan pekerjaan, “mengangur”dulu selama beberapa bulan.
Dari sudut pandang penilaian seorang konsultan HRD,penyebab utama gugurnya kandidat dalam bersaing mencari pekerjaan diantaranya karena kurangya pengetahuan dan kemampuan kandidat dalam teknik wawancara.

Hal tersebut biasanya di tandai dengan sikap nervous dan tegan dalam situasi wawancara pekerjaan,sehingga akan menyebabkan kandidat tidak fokus dan tidak efektif dalam menjawab pertanyaan interviewer.Terlebih lagi nervous akan menyebabkan kandidat tidak bisa ‘menjual” dirinya dengan optimal.
Solusinya tentu adallah dengan bersikap tenang ang di tunjang denga kemampuan berkomunikasi,dimana sikap tenang ini dapat diraih setelah kandidat memilki pengetahuan teknik wawancara yang baik.
Akan tetapi,seperti kata pepatah, “practice make perfect” ,satu faktor lain yang sangat berperan dalam menghadai situasi awncara pekerjaan adalah jam terbang.Pengetahuan teknik waancara yang baik,di sertai degan pengalaman praktek wawancara yang tinggi,akan menambah kepercayaan diri kandidat.
Untuk mencapai semua itu,berikut tips nya:
1. Memiliki pengetahuan teknik wawancara pekerjaan.Buku artikel tentang hal ini bisa ita dapatkan di toko uku ataupun di internet.Jangan khawatir mengenai biaya,karena banyak sekali artikel tentang tekik wawancara bisa didapatkan dengan geratis di internet.
2. Setahun sebelum perkiraan lulus kuliah/sekolah,melamar untuk beberapa pekerjaan yang diminati,katakan di surat lamaran,bahwa saaat ini anda masih kuliah/sekolah,namun dalam persiapan skripsi/mengikuti ujian akhir.
3. Saat melamar,jika calon pemberi kerja (perusahaan) mensyaratkan untuk mengirimkan berkas lamaran melalu pos,maka sebaiknya hanya menyertakan surat lamaran dan Curiculum Vitae (CV) atau riwayat hidup dan informasi-informasi lain yang anda anggap dapat mendukung kesuksesan anda alam peerjaan tersebut.
4. Untuk pekerjaan atau jabatan yang tidak harus memiliki latar belakang pendidikan khusus,seperti dokterakuntan,arsistek atau engineer,maka walaupun calon pemberi kerja (perusahaan) telah mensyaratkan latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan anda,jangan “takut” untuk tetap melamar.
Alasannya adalah,bagi perusahaan pemberi kerja,persyaratan latar belakang keilmuan biasannya hanya merupakan suatu keutamaan saja ,kalau ada kandidat dengan bidang keilmuan yang berbeda namun memiliki kopentensi dan pengalamn yang sesuai dengan pekerjaannya,tidak akan menjadi masalah.
Contohdalam hal ini biasanya suatu lowongan pekerjaan untuk menjadi staf hubugan masyarakat,walaupun telah disyaratkan yang di cari adalah kandidat dengan latar belaang ilmu komunikasi,maka membuat anda yang berasal dari bidang ilmu lainnya silahkan melamar saja.
Pengecualian bila calon pemberi kerja adalah bukan perusahaan melainkan departemen atau badan pemerintah,mereka sangat ketat sekali dalam hal ini,mugkin dikarenakan banyaknya peminat ssehinga perlu ada pembatasan dari sisi administrasi.
5. Upayakan miliki pengalaman kerja semasa anda kuliah/sekolah,walaupun hanya berupa peraktek kera,atau pekerjaan paruh waktu,dan cantumkan pengalaman kerja ini dalam CV anda.
6. Aktivitas beroganisasi perlu juga disertakan saat menuliskan CV,sebab biasanya aktivitas organissi banyak membari kematangan dalam berinteraksi dan berkomunikasi yang tentunya di butuhkan juga dalam dunia kerja .
Semoga sukses mendapat pekerjaan impian anda ya…?

Sumber : kompasiana.com

“Imperialisme dan Kapitalisme” Dimata Bung Karno


“Imperialisme itulah penghasut yang bersarang menyuruh berontak, karena itu bawalah itu ke depan polisi dan hakim” (Bung Karno)

“Menolak Kerjasama” dengan pihak asing adalah cara Bung Karno untuk menutup peluang Penjajahan Gaya Baru (Imperialisme Moderen), karena Bung Karno sudah sangat faham dengan pola-pola yang dipakai dan cara-cara penjajah menanamkan cengkramannya di Tanah Indonesia. 
Membangun kekuatan Bangsa Indonesia adalah menjadi tujuannya, dan itulah tujuan akhir dari Kemerdekaan Indonesia.
Imperialisme Moderen bisa masuk lewat Kapitalisme, itu yang diyakininya. Dalam pandangan Bung Karno, Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dar cara produksi yang memisahkan kaum buruh dengan alat produksi. Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang menjadi sebab nilai lebih tidak jatuh ketangan kaum buruh, melainkan ketangan pengusaha. Kapitalisme meyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisai kapital, dan indutrieel reserve-armee (barisan penganggur). Kapitalisme mempunyai atah kepada verelendung (memelaratkan kaum buruh).**
Apa yang ditakuti dan dikatakan Bung Karno dalam Pledoinya “Indonesia Menggugat”dihadapan pemerintah Belanda 18 Agustus 1930, terjadi sekarang ini, fase imperialisme moderen lewat Kapitalisme sudah kita hadapi. Cengkraman kuku-kuku imperialisme dan bujuk rayu kaum imperialis sudah mulai kita rasakan. Sebagian besar dari bangsa ini menikmatinya sebagai upaya untuk menumpuk kekayaan dengan cara menjadi boneka kaum imperialis, dan sebagiannya lagi merasakan ketertindasan.
Kita memang butuh investor dan kita butuh pinjaman modal asing, yang menjadi masalah adalah bukan investor dan pinjamannya, yang menjadi masalah adalah sikap pemerintah yang berkuasa dalam mengarahkan kebijakannya. Prinsip dari sebuah kerjasama dengan investor asing, Negara haruslah diuntungkan, dan rakyat tersejahterakan oleh kerjasama yang dilakukan dengan pihak asing. Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar kalau memang harus melakukan kerjasama.
Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian, dari kerjasama yang ada negara tidak diuntungkan, yang diuntungkan hanyalah pihak-pihak yang menentukan kebijakan dan yang ada dalam lingkaran kebijakan, yaitu penguasa, pembuat aturan dan haluan kebijakan, dan rakyat tidak merasakan manfaat apa-apa, terbuka lapangan pekerjaan tidak menjamin peningkatan kesejahteraan, semua tergantung aturan dan kesepakatan kerjasama.
Apakah semua ini sudah sesuai dengan cita-cita Kemerdekaan ?  Jelas belum sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa. Kedaulatan rakyat saja sudah diabaikan, bagaimana mungkin rakyat akan tersejahterakan. Amanat Undang-Undang Dasar 1945 salah satunya adalah Mencapai kehidupan rakyat yang Adil dan Sejahtera, memang untuk mencapai itu tidak mudah, tapi juga tidak sulit jika diupayakan. Mencapai Indonesia Merdeka saja adalah sesuatu yang sangat sulit, tapi hal itu ternyata bisa dicapai.
Imperialisme Moderen lebih pada bentuk penjajahan secara ekonomi, yang dilakukan melalui berbagai politik ekonomi oleh negara-negara yang mempunyai kekuatan ekonomi. Penjajahan ekonomi juga dilakukan lewat industrialisasi dan desentralisasi ekonomi, inilah yang sedang kita alami. Untuk melawan penjajahan ekonomi jalan satu-satunya adalah menciptakan perekonomian yang mandiri, dengan mengembangkan sentra industri kecil dan menengah, menghidupkan perekonomian rakyat. Selain itu merubah arah kebijaksanaan kerjasama, membatasi investor asing dalam pengelolaan sumber daya alam.
Kalau tidak ada kesadaran dari penentu kebijakan dalam kerjasama dengan investor asing, maka para imperialis yang berkedok investor akan semakin merajalela, yang terjadi tidak lagi hanya penjajahan ekonomi, tapi juga sosial, budaya dan politik. gejala itu pun sudah mulai terlihat nyata. harus ada sebuah generasi baru yang mampu melakukan perubahan secara besar-besaran, yang bisa menghapuskan segala bentuk penjajahan di Tanah Indonesia yang kita Cintai ini.
“Aku satu-satunya presiden di dunia ini yang tidak punya rumah sendiri. Baru-baru ini rakyatku menggalang dana untuk membuatkan sebuah gedung buatku. Tapi di hari berikutnya aku melarangnya. Ini bertentangan dengan pendirianku. Aku tidak mau mengambil sesuatu dari rakyatku. Aku justru ingin memberi mereka,” ujar Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia’.
**Dikutip dari buku Mahakarya Soekarno-Hatta

Sumber : kompasiana.com

Benarkah Anda Business Man (Pemilik Usaha) atau Hanya Self-Employed (Pekerja Lepas) ?


Masyarakat Indonesia belakangan ini mempunyai euphoria tersendiri kalau berbicara mengenai lulusan kuliah. Beratus ribu lulusan perguruan tinggi diseluruh pelosok tanah air diciptakan dan akan mencari pekerjaan atau membuat lapangan pekerjaan bagi mereka yang mampu memulainya. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya, apakah yang membuat pekerjaan dapat dikatakan Bussiness Man 
Jika mengikuti persepsi masyarakat Indonesia selama ini hal tersebut bisa dikatakan demikian. Namun, menurut saya hal itu perlu diteliti lebih lanjut apakah benar seorang yang mencipatakan lapangan pekerjaan  tersebut dapat dikatakan seorang Business Man.
Jika kau pernah membaca sebuah buku tulisan Robert T Kiyosaki “The Cashflow Quadrant”, kau akan tau dimana letak perbedaanya. Dibuku tersebut dijelaskan bahwa seorang Self-Employed adalah orang yang ingin menjadi bos bagi diri mereka sendiri, melakuakan segala hal berdasarkan apa yang mereka mau. Orang yang memiliki tipe ini tidak ingin penghasilannya tergantung kepada orang lain, jika mereka bekerja keras, mereka dibayar untuk pekerjaan mereka. Orang Self-Employed juga menyadari bahawa ketika mereka bekerja mereka tidak akan mendapatkan bayaran, dan indpenden dalam hal uang.
Self-Employed biasayan terdiri dari orang-orang profesioanal yang berpendidikan tinggi yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dibangku sekolah, seperti dokter, pengacara, dll. Masih ada kelompok yang tidak berpendidikan tinggi digolonngkan dalam kategori ini seperti wiraniaga komisi langsung, agen real estate, pemilik bisnis kecil, dll.
Orang-orang tipe ini biasanya perfeksionis dan menganggap dirinya paling benar dalam melakukan pekerjaan, mereka beanr-benar tak percaya kalau orang lain mampu melakukan yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan. Cara yang meraka lakukan adalah cara yang paling benar dan cara orang lain salah. Orang tipe ini juga ragu untuk melatih orang lain karena ada kehawatiran orang yang dilatih tersebut kelak akan menjadi saingan mereka.
Business Man, kelompok ini dapat dikatakan sebagai lawan dari Self-Employed. Orang-orang tipe ini suka mendelegasikan wewenang kepada orang lain karena mereka punya persepsi “jika ada yang bisa melakukannya dan lebih baik dari yang saya lakukan mengapa tidak”. Lain halnya dengan Self-Employed yang tak suka mendelegasikan wewenangnya kepada orang lain.
Jika demikian dimana letak perbedaan keduanya? Orang-orang yang merupakan kategori Business Man sejatinya bisa meninggalkan usaha mereka selama satu tahun atau lebih dan pada saat kembali menemukan bisnis nya berjalan dengan lancar dan menghasilkan profit yang baik. Sedangkan tipe Self-Employed juga dapat dikatakann sebuah bisnis tapi disini saya mengatakan ini bukan bisnis yang sebenarnya, mengapa demikian? Jika pemilik pergi selama satu tahun atau lebih kemungkinan besar bisnisnya tak akan jalan dan tak akan menghasilkan keuntungan bagi dirinya.
Secara sederhana digambarkan bahwa orang Self-Employed memiliki sebuah pekerjaan sementara orang tipe Business Man mempunyai sebuah tatanan sistem dan kemudian menyewa orang-orang berkompeten untuk menjalankan sistem itu. Atau jika dikatakan secara simple dalam Self-Employed mereka adalah sistem bagi usahanya. Ketika mereka pergi dan meninggalkan usahanya maka usaha itu tak akan jalan karena dia merupakan sistem dalam bisnisnya.
Bagi anda yang sadar bahwa anda adalah seorang Self-Employed bukan Business Man,anda bisa mengubah strategi. Jika anda seorang dokter gigi anda bisa menjadi seorangBusiness Man dengan membuat sebuah klinik khusus gigi dengan mempekerjakan orang-orang professional dan tentunya membangun sistem dan tatanannya dengan baik serta memberikan kepercayaan kepada pengelola klinik anda. Jika anda seorang pemilik toko kecil atau warung nasi kecil atau hal lain yang terkait anda bisa mencoba untuk membuat suatu tatanan sistem sederhana, dimulai dari sistem tenaga kerja, keuangan atau bahkan pelaporan pertanggung jawaban karyawan anda kepada anda. Sebab banyak keuntungan yang akan anda dapatkan ketika anda menjadi seorang Business Man, sebagai contoh misalkan ketika anda berlibur maka bisnis anda tetap akan jalan, ketika anda sedang sakit bisnis anda akan mampu menopang kehidupan keluarga dan biaya perawatan anda. Walau memang disamping itu ada kekurangannya tentu dari sisi korupsi dan kolusi. Namun semua hal itu bisa diatasi jika sistem yang telah kita buat terstruktur dengan baik.
Bagaimana, apakah anda seorang Business Man atau Self-Employed? Apakah anda tertarik menjadi seorang Business Man ?
Salam
_-Julian Cholse-_

Sumber : kompasiana.com

Mindset dan Mental Sang Pemenang

Selama bertahun-tahun memiliki pengalaman sebagai motivator, membawakan ribuan seminar dan bertemu ratusan ribu peserta, saya mengamati dan mempercayai bahwa keinginan seseorang untuk sukses sangatlah besar.
Umumnya, mereka melakukan investasi demi mengikuti seminar-seminar motivasi, membeli buku pengembangan diri dan lain sebagainya. Pertanyaan saya, apakah Anda sudah menemukan rahasia untuk menjadi seorang Pemenang? Jika IYA, apakah Anda telah melakukannya?
2 M for Mindset & Mental
Berapa banyak diantara Anda yang telah mengikuti seminar motivasi, membaca buku-buku pengembangan diri dan hasilnya Anda semakin bingung serta putus asa menemukan rahasia menjadi seorang Pemenang? Setiap pembicara motivasi umumnya membagikan hal yang berbeda dengan pembicara motivasi lainnya sehingga Anda kesulitan harus memulai darimana melakukan rahasia tersebut. Oleh sebab itu, dalam artikel ini yang merupakan pengalaman pribadi dan hasil dari pengamatan saya selama terjun dalam dunia motivasi khususnya pengembangan diri, saya menyederhanakan rahasia tersebut menjadi 2 M yaitu Mindset dan Mental.
Mindset Sang Pemenang
Pepatah mengatakan bahwa “Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri”. Oleh sebab itu, penting sekali mengetahui apakah kita sudah memiliki keyakinan bahwa kita adalah seorang Pemenang. Keyakinan tersebut harus muncul dari dalam diri kita sendiri, karena kita lah yang paling mengetahui diri kita sendiri. Permasalahannya adalah, bagaimana menimbulkan keyakinan pada diri kita? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan menceritakan pengalaman saya ketika duduk di bangku sekolah. 
Ketika saya duduk di bangku sekolah, saya teringat dengan salah satu mata pelajaran IPA yaitu Biologi. Dalam pelajaran tersebut, guru saya menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari 2 (dua) sel yaitu satu sel telur (ovum) wanita dan satu sel sperma pria. Dalam ovulasinya, wanita menghasilkan hanya 1 (satu) sel telur sedangkan sel sperma pria dinyatakan sehat jika memiliki kandungan sperma sebanyak 200 – 400 juta sel.
Pertanyaan kritis saya terhadap Guru Biologi saya pada waktu itu adalah “Pria menghasilkan demikian banyak sel sperma hingga ratusan juta, namun mengapa yang dibutuhkan hanyaSATU?”. Jawaban Guru saya pada waktu itu adalah “Itulah yang disebut Rahasia Alam”. Pelajaran itulah yang kemudian menginspirasi dan mempengaruhi saya bahwa Tuhan Yang Maha Esa sungguh luar biasa dengan menciptakan manusia melalui proses penciptaan kita yang luar biasa pula. Bayangkan dari ratusan juta sperma hanya dibutuhkan SATU untuk menjadi seorang manusia, dan itulah sebabnya saya meyakini bahwa manusia DILAHIRKAN menjadi seorangPEMENANG !!!  Keyakinan inilah yang selalu saya tanamkan dalam diri saya, dan saya harap demikian pula dengan Anda
Mental Sang Pemenang
M yang kedua adalah Mental. Mental yang saya maksudkan adalah semangat pantang menyerah. Kualitas seorang Pemenang tidak ditentukan berapa banyak kegagalan yang telah dialami, namun berapa kali kita bangkit setelah mengalami kegagalan tersebut.
Winston Leonard Spencer Churchill, pria kelahiran 30 November 1874, yang dikemudian hari dikenal dengan nama Sir Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris pada masa Perang Dunia II, sangat terkenal dengan orasi atau pidato nya yang sangat menggugah semangat khususnya di masa perang dunia.
Salah satu pidato nya yang sangat terkenal pada tanggal 29 Oktober 1941 ketika Sir Winston Churchill mengunjungi sekolah Harrow sekaligus memberikan pidato kepada siswa sekolah tersebut. Ketika Sir Winston Churchill diundang maju keatas podium, dengan penuh percaya diri Sir Winston Churchill segera mengambil tempat yang telah disediakan. Setelah mencapai podium, Sir Winston Churchill meletakkan topi kesayangannya dan dengan seksama mengamati para siswa dan tidak mengucapkan sepatah katapun hingga para siswa mulai bertanya-tanya apa yang hendak disampaikan oleh orator ulung tersebut. Sir Winston Churchill kemudian memulai pidatonya dengan mengucapkan “Jangan Pernah Menyerah”
Kemudian, Sir Winston Churchill melihat kepada para siswa sebelum mengucapkan kembali kalimat “Jangan Pernah Menyerah” untuk kedua kalinya. Para siswa seakan tidak percaya mendengar kalimat sederhana tersebut dan menantikan penjelasan yang lebih lama dari Perdana Menteri Inggris tersebut. Kemudian, Sir Winston Churchill untuk terakhir kalinya mengatakan “Jangan Pernah Menyerah”, mengambil topi dan segera meninggalkan podium. Pidato singkat dengan durasi 10 menit yang kemudian menjadi sangat terkenal di dunia.
Demikian pula dengan Anda, dalam hidup ini, menjadi seorang Pemenang bukanlah hal yang mudah, seringkali kita mengalami kegagalan demi kegagalan, yang seringkali memaksa kita untuk menyerah. Jika Anda merasakan hal demikian, ingatlah cerita Sir Winston Churchill tersebut diatas.



Sumber :kompasiana.com

Ketika Kreativitas Berkontribusi Dalam Sebuah Perekonomian


Pergeseran sistem perekonomian di Indonesia yang semula berbasis pertanian, kemudian menjadi era industrialisasi, dan sekarang akhirnya dengan optimisme, luapan aspirasi untuk mendukung Indonesia menjadi negara maju, serta pemikiran-pemikiran, cita-cita, imajinasi dan mimpi untuk menjadikan masyarakat hidup sejahtera dan kreatif,
beradalah Indonesia dalam suatu era yang dirumuskan dalam suatu perencanaan jangka panjang oleh pemerintah dengan dikepalai oleh Dr. Mari Elka Pangestu (Menteri Perdagangan RI), maka terumuskanlah

”Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015”, yaitu era ekonomi kreatif. Industri kreatif merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan ekonomi kreatif. Kolaborasi antara Pemerintah-Pengusaha-Cendikiawan sangat dibutuhkan dalam mendukung pengembangan 14 subsektor industri kreatif nasional, antara lain: sektor periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, design, fesyen, video; film; fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan; percetakan, layanan komputer; piranti lunak, televisi; radio, riset; pengembangan.



Peluang indsutri kreatif dalam negeri atapun dunia internasional sangatlah besar, apalagi dengan majunya tingkat pendidikan dan kesehatan di berbagai dunia, maka pola hidup kebanyakan masyaraktpun berubah karena adanya keterhubungan dan internasionalisasi yang tercipta. Ekonomi kreatif ini tentu saja dapat menyokong perekonomian negara kita, ketika saat ini sedang terjadi krisis perekonomian global yang mengakibatkan jumlah ekspor menurun, maka ekonomi kreatif-lah yang diharapkan menjadi penyokong perokonomian Indonesia yaitu dengan memanfaatkan produk-produk lokal yang kita miliki dan SDM yang tentunya memiliki kreatifitas tinggi, begitu juga dengan musik. Industri musik merupakan salah 1 subsektor yang termasuk dalam ekonomi kreatif, melihat perkembangan musik dunia yang begitu cepat berkembang seperti di Korea misalnya, maka hal inilah yang kemudian menjadi trigger bagi dunia musik kita agar bisa tetap berkompetisi dengan pasar internasional. Selain itu, dengan melihat keberagaman ”sosio-kultura” yang dimiliki Indonesia, maka seharusnya sistem ekonomi kreatif menjadi sangat mudah untuk dikembangkan di negara ini.

Namun demikian banyak hal yang perlu kita sadari, permasalahan utamanya adalah mengenai ada atau tidaknya ketersediaan SDM yang kreatif dan berkualitas di dalam negeri, serta masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Harus disadari bahwa negara-negara maju lainnya sudah lebih dulu mengalami masa ”ekonomi kreatif” sehingga hal ini tidak asing lagi bagi mereka. Namun di Indonesia perlu ditilik kembali tentang bagaimana teknologi dan pelatihan-pelatihan yang harus tersedia untuk menunjang keberhasilan ekonomi kreatif di Indonesia. Begitu juga dengan masalah HKI, beberapa kali sering kita dengar permasalahan antar Indonesia dan Malaysia terkait HKI, inipun juga yang harus diedukasikan kepada masyarakat kita agar memiliki pandangan dan wawasan yang lebih luas mengenai kebudayaan daerahnya.

Memang harus diakui perkembangan ekonomi kreatif sangat memberikan kontribusi yang signifikan kepada Indonesia dalam beberapa dekade terakhir ini. Selain itu, tentu saja dengan makin berkembangnya 14 subsektor diatas, maka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan (ataupun perkotaan) meningkat, kemudian tingkat ekspor dari Indonesia pun meningkat dan hal ini tentu saja memberikan pengaruh positif dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. rasanya kita membutuhkan sebuah revolusi dalam berbagai aspek. Sudah saatnya kita mulai memikirkan bagaimana caranya melestarikan warisan dan nilai-nilai budaya yang Indonesia miliki, mulai kembali membenahi setiap sektor industri kreatif agar “ekonomi kreatif” di Indonesia dapat berlangsung lama dan tentunya memberikan dampak positif tidak hanya bagi negara, tapi juga bagi masyarakat.

Sumber : kompasiana.com

Rp 15 Juta dari Ketimun


Mentari sore sudah mulai turun di sisi barat, Minggu (10/6). Agak hangat, tapi disitulah letak nikmatnya. Semilir angin membuat pohon kepala di kejauhan berlenggak-lenggok, seperti penari. Sementara di pondok, Tohari bersama istrinya sedang asyik memilah ketimun. Yang bentuknya kurang baik, dipisah.
Itu panen terakhir ketimun untuk kali ini.
Hasilnya lumayan, lima ton. Harganya pun lumayan, sekitar Rp 3 ribu per kilogramnya. Berarti sekitar Rp 15 juta dikantongi Tohari dari hasil sekitar 4500 batang ketimun. Beberapa hari lalu, ia juga baru panen jagung yang hasilnya juga lumayan.
Hanya saja, selama beberapa waktu terakhir Tohari tak lagi menanam cabe. Debu dari eksplorasi bauksit membuat daun cabe rusak. Padahal harganya cukup bagus. Saat ini saja harga cabe di Kota Tanjungpinang, per kilogramnya mencapai Rp 36 ribu.
Tapi Tohari bersyukur, karena kini perlahan ia dan keluarganya bisa mulai hidup layak. Keputusannya untuk merantau dari tanah Pasundan, tidak sia-sia. Apalagi saat ini ia tak banyak mengeluarkan modal. Hanya modal bibit, tenaga dan kemauan. Sedangkan tanah, ia pinjam cuma-cuma dari pemilik lahan bauksit.
Malah hasil pertaniannya tidak hanya masuk pasar lokal, tapi juga dibeli pengumpul di Batam, Tak banyak orang Melayu yang bisa seperti Tohari dan keluarganya. Orang Jawa cenderung lebih sukses di tanah Melayu ini.
Bukan tanpa alasan. Karena memang orang Jawa lebih sabar dan tekun. Ditambah orang Jawa lebih biasa bekerja di atas tanah. Sedangkan kami orang Melayu, biasa menunggangi ombak di lautan. Tohari contohnya, merantau ke Tanjungpinang sejak 1990.
Awalnya ia diajak saudaranya membuka lahan untuk perhotelan di Lagoi. Setelahnya, ia sempat luntang lantung hingga akhirnya menjadi petani. Kini, dari bertani Tohari sudah memiliki motor, tanah dan perlahan membangun rumah.
Angin kembali berhembus, membawa aroma keringat Tohari yang bagiku sedikit berbau tak sedap. Tapi tak mengapa, itu keringat kerja keras, keringat tak kenal lelah mengolah tanah Tuhan. Ya, memang sebaik-baiknya makanan adalah yang diusakan sendiri.
Tohari juga tak pelit. Niat untuk membeli ketimun, malah diberi gratis. Plus jagung yang sudah direbus, juga ilmu yang tak bisa diperoleh di bangku sekolah. Bahwa, tidak ada yang tak mungkin. Buktinya, diatas tanah bauksit yang disebut tak bisa ditanami, Tohari bisa menyambung hidup yang lebih baik

Sumber : kompasinan.com

“Allah My Boss”, Kerja Butuh Semangat Hidup


Kopi hitam di gelas putih hari ini mengepulkan aroma yang super hebat. Badan yang lesu karena kelelahan, dengan secangkir Kopi bisa membuat saya tambah semangat. Lelah dalam hidup ialah sesuatu yang biasa. Sesuatu yang normal pada diri manusia.
Tetapi akan abnormal kalau setiap hari kelelahan itu membuat Anda malas melakukan apa-apa.

Semangat hidup. Ya, inilah yang harus Anda tanamkan dalam aktivitas sehari-hari. Tanpa semangat hidup, saya pikir, dunia ini akan ada tanpa ajegnya sebuah peradaban. Semangat hidup sangat terkait erat dengan rasa cinta menggebu. Rasa yang dapat mengalirkan Anda untuk memproduksi sesuatu dalam kerangka kreativitas dan inovasi.
Coba lihatlah gadget super cerdas seperti Apple Ipad. Produk ini lahir ke tengah-tengah hidup kita karena sang penemunya mencintai kehidupan. Mencintai dunia teknologi. Dan, mencintai ilmu pengetahuan. Sang pencipta, Steve Jobs, memang kini telah tiada meninggalkan dunia — yang kata sebagian Sufi bersifat fana — namun produk yang didasari cintanya tersebut hingga kini masih bermanfaat bagi umat manusia. Malahan ketika setahun lebih pasca kematiannya, Apple “New Ipad” habis terjual empat juta lebih dalam jangka tiga hari saat dilaunching.
Itulah bukti cinta dan semangat hidup yang telah dilaksanakan seorang manusia. Ketika Anda menjadikan kehidupan ini sebagai wahana berkarya, di saat itulah hidup Anda akan dipenuhi cinta dan semangat. Biar pun kondisi hidup berada di bawah standar, tetapi Anda akan menjadikannya sebagai ladang amal dan pahala dengan terus-menerus melahirkan karya.
Kerja, usaha, karya, dan semangat hidup ialah sesuatu yang harus dibangkitkan mulai saat ini. Kalau Anda menghendaki kesuksesan menghampiri Anda. Maka segeralah menyemangati diri ketika kelelahan mendera hidup Anda. Dengan begitu, insya Allah, Tuhan akan memberikan suntikan yang amat berharga bagi Anda agar dapat mengarungi kehidupan ini dengan optimis. Suntikan yang diramu dari rasa cinta dan optimisme, yakni SEMANGAT HIDUP!
Energi itu Cinta
Hidup memerlukan energi yang super banyak agar kita dapat terus eksis. Bagi saya, energi tersebut dapat diperoleh dengan mengoptimalkan perasaan yang ada di setiap jiwa manusia: Cinta. Dengan cinta inilah, apa pun yang sulit dalam hidup bisa dilewati. Apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Cinta mampu mengubah sesuatu yang dianggap biasa menjadi luar biasa.
Saya hari ini mencoba merenungi kumpulan semut yang berjalan dengan rapi. Tubuhnya kecil tetapi sangat menakjubkan karena kecilnya tubuh semut itu tidak membuat mereka putus asa. Dengan sigap seekor semut mampu membawa sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya. Malahan besarnya hingga sepuluh kali lipat. Apa rahasianya?
Tiada lain tiada bukan: kekuatan cinta para semut kepada sesama semut di koloninya. Mereka bergotong royong tanpa kenal lelah mengumpulkan makanan untuk mempertahankan hidup. Inilah cinta. Cinta pada kehidupan. Semut, yang kita anggap hewan dan tak berperadaban ternyata juga memiliki cinta.
Bagaimana dengan kita? Sebagai seorang manusia, yang diciptakan Tuhan dengan potensi komplit dan sempurna – bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan lain – sejatinya kita lebih dahsyat lagi semangatnya. Jangan pernah menyerah pada terpaan masalah yang hadir di kehidupan. Jadilah manusia yang bermental kuat dan besar. Sebab, hanya dengan badannya yang kecil, seekor semut mampu membawa beban yang lebih besar bila dibandingkan dengan tubuhnya.
Rahasianya ialah kekuatan cinta. Maka optimalkanlah cinta Anda untuk menggapai apa yang Anda harapkan. Dengan begitu semangat hidup akan mengokohkan kinerja Anda. Jangan lupa, Allah beserta kita dalam setiap kesempatan. Tuhan beserta kita. Innallaha ma’ana!
Selamat hidup menjadi lebih hidup, kawan! Ingat, sekali lagi. Tuhan akan selalu bersama kita, lhoInnallaha Ma’ana.

Sumber : kompasiana.com

Sabtu, 16 Juni 2012

Surat Abraham Lincoln Kepada Kepala Sekolah


Berikut adalah sebuah surat yang ditulis sendiri oleh Abraham Lincoln (1809-1865; negarawan AS) kepada Kepala Sekolah putranya. Meski ditulis puluhan tahun silam, isinya tetap relevan hingga sekarang bagi semua kalangan, entah itu eksekutif, pekerja, guru, orangtua, dan murid.


Pesan untuk Para Guru
"Saya tahu dia (baca: putra Lincoln) harus belajar bahwa tidak ada manusia yang bersikap adil dan berlaku jujur. Tapi, tolong ajari dia indahnya buku-buku... dan berikan dia juga waktu untuk merenungkan misteri abadi tentang burung-burung di langit, lebah-lebah di bawah matahari, dan bunga-bunga di lereng bukit yang menghijau.

Di sekolah, ajari dia bahwa kegagalan itu jauh lebih terhormat daripada berbuat curang.... Ajari dia untuk meyakini gagasan-gagasannya sendiri, meski semua orang berkata dia salah.

Ajari dia untuk bersikap lembut kepada orang-orang yang juga bersikap lembut, dan bersikap keras kepada orang-orang yang juga bersikap keras. Berikan putra saya kekuatan untuk tidak begitu saja mengikuti orang banyak ketika mereka sedang bersukaria akan sesuatu....
Ajari dia untuk mendengarkan semua orang yang berbicara padanya; tapi ajari dia juga untuk menyaring kebenaran dari semua hal yang didengarnya, dan hanya mengambil hal-hal yang positif saja.
Ajari dia cara untuk tertawa di saat dia sedih.... Ajari dia agar tidak malu untuk menangis.

Ajari dia untuk mencemooh orang-orang yang bersikap sinis dan bersikap waspada terhadap orang-orang yang selalu bermuka dan bermulut manis.
Ajari dia untuk mengerahkan seluruh kekuatan dan pikirannya untuk melakukan hal-hal terbaik, tapi jangan pernah menjual hati dan jiwanya. Ajari dia untuk tidak mendengarkan kelompok orang yang berteriak-teriak... dan tetap berjuang mempertahankan pendiriannya jika memang dirinya benar.
Perlakukan dia dengan lembut, tapi jangan manjakan dia, karena hanya melalui tempaan apilah bisa tercipta baja yang terbaik. Biarkan dia memiliki keberanian untuk bersikap tidak sabar. Biarkan dia memiliki kesabaran untuk bersikap berani. Ajari dia untuk selalu mempunyai kepercayaan yang sungguh-sungguh pada dirinya, karena dengan begitu ia akan memiliki kepercayaan pada sesamanya.

Pesan ini sangat penting, namun lakukan saja sebisa Anda. Putra saya adalah anak laki-laki yang baik!
-Abraham Lincoln"

Sumber : andriewongso.com

Catatan Dahlan Iskan


Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.
Tetap semangat...Tetap sabar....Tetap tersenyum...! Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN.
TUHAN menaruhmu di "tempatmu" yang sekarang, bukan karena "KEBETULAN".
Orang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.
______
(Disadur dari Buku "Sepatu Dahlan")

5 Kunci untuk Menghindari Kebangkrutan di Tahun Pertama

Waktu paling rawan dari suatu bisnis adalah tahun pertama. Banyak bisnis yang berguguran di tahun pertamanya sejak didirikan. Menurut sejumlah penelitian, di dua tahun pertama, tiga dari sepuluh perusahaan baru bangkrut. Lima tahun pertama tinggal separuhnya yang masih beroperasi.

Pada periode ini memang waktu yang paling rawan bagi suatu bisnis karena banyaknya pengeluaran. Misalnya, dibutuhkannya dana untuk sewa tempat, setidaknya untuk satu tahun. Jika bisnisnya tidak lancar, beban biaya untuk pembayaran sewa tempat ini bisa membuat bisnis tersebut berdarah-darah. Belum lagi pengeluaran untuk modal kerja lainnya, semisal mesin dan lain sebagainya.
Ada lima hal yang perlu diperhatikan agar bisnis bisa berjalan lancar sejak tahun pertama.

1.Bicaralah pada konsumen. Menyelenggarakan riset pasar saat akan menjalankan suatu bisnis akan membuat kita terhindar dari kesalahan. Karena dengan riset ini kita bisa menemukan produk atau jasa yang akan kita tawarkan sesuai dengan pasar yang kita sasar. Kita juga bisa menentukan harga yang kompetitif sehingga bisa diterima pasar.

2.Pilih tempat yang sesuai. Tempat di sini bisa tempat yang riil (toko atau kantor) bisa pula nama domain karena kita akan menjalankan bisnis berbasis internet. Pilihlah tempat atau domain yang sesuai dengan peruntukannya.

3.Jangan boros. Sebaiknya tahan diri untuk tidak melakukan pemborosan. Pebisnis pemula biasanya tergoda untuk hal yang sebenarnya bisa dilakukan dengan efisien. Misalnya, kantor tak perlu bagus. Namun kadang kala ada orang yang langsung kantornya ingin mentereng karena gengsi. Padahal makin bagus kantor makin tinggi beban keuangannya pada perusahaan. Selain itu, jangan terburu-buru merekrut staf atau ahli jika kita masih mampu menanganinya sendiri. Karena sekali kita rekrut, gaji bulanan harus kita jamin. Belum lagi asuransi dan pendukung lainnya.

4.Buat perencanaan. Dengan membuat perencanaan di awal kita akan menemukan alternatif-alternatif terbaik.Karena itu, duduk dengan tenang, cari masukan kiri-kanan, dan gali sedalam-dalamnya hingga perencanaan yang kita buat jadi optimal. Juga susun alternatif apa yang akan kita ambil jika keadaan buruk kita hadapi.

5.Analisa terus perkembangannya. Meski di awal memulainya sudah jelas bisnis kita akan dibawa ke mana, tetapi tetap lalukan analisa berkelanjutan sehingga kita benar-benar tahu ke mana bisnis kita sedang berjalan. Jika tetap pada jalurnya perbaiki langkah yang bisa mempercepat perkembangannya. Namun jika ternyata tidak sesuai dengan target dan bisnisnya kurang berjalan, ganti saja. Seorang pebisnis sukses malah punya target, keras. Jika dalam waktu enam bulan bisnis melenceng jauh dari harapan, bisnis itu akan segera ia tutup. "Jangan buang-buang waktu dengan bisnis yang belum tentu sukses," katanya. Para pebisnis sukses umumnya tak langsung berhasil dengan bisnis pertamanya, namun jatuh bangun dulu dari beberapa bisnis yang ia dirikan di awal. (Diolah dari berbagai sumber).

Sumber : andriewongso.com

10 Ways to Become Productive Entrepreneur

Banyak cara yang dilakukan agar bisa menjadi pengusaha sukses. Salah satunya, dengan menjadiproductive entrepreneur. Bagaimana caranya?

Menjadi pengusaha, tentu banyak tantangannya. Sebab, kompetisi makin ketat, permintaan makin beraneka ragam, dan posisi pelanggan kini sudah semakin setara dengan produsen. Kemajuan teknologi informasi turut menjadikan persaingan semakin sengit. Bagi yang tahan banting, barangkali dengan persaingan justru semakin matang. Namun, bagi yang tidak siap, siap-siap saja mengalami kejatuhan.

Lantas, apa yang harus dilakukan di tengah situasi yang serba menantang itu? Kuncinya, menjadi seorang productive entrepreneur atau pengusaha yang produktif.Dengan cara itu, efisiensi dan efektivitas akan bisa ditingkatkan. Apa saja yang harus dilakukan agar kita bisa menjadi seorang productive entrepreneur? Berikut tips yang disarikan dari Inc.com. Semoga bisa menginspirasi kita semua agar bisa memaksimalkan semua daya dan upaya:

Lewatkan meeting kurang penting. Meeting hanya menghabiskan waktu jika tidak terjadi kesepakatan. Ada banyak cara untuk berkomunikasi yang lebih efektif berkat kemajuan teknologi.

Ikuti aturan "dua pizza". Tim inti sebuah proyek harusnya kecil saja, yang cukup hanya diberi jatah "dua pizza". Ini adalah upaya membagi kelompok-kelompok kecil untuk menangani isu-isu tertentu yang penting sebelum diangkat ke pertemuan besar. Dengan begitu, komunikasi justru akan berjalan lebih lancar, fokus, dan terarah.

Segera jawab telepon. Sepertinya sepele. Tapi, itulah inti dari komunikasi. Dengan segera mengangkat telepon, komunikasi berjalan lebih lancar.

Organisasikan jadwal keseharian. Danny Meyer, CEO dari Union Square Hospitality Group, menceritakan, bahwa asisten eksekutifnya, selalu membagi e-mail dan memo menjadi empat bagian. "Bagian pertama adalah jadwal saya hari selanjutnya. Bagian kedua adalah hal-hal apa saja yang harus segera mendapatkan jawaban atau tanggapan. Dengan begitu, dia tidak perlu menginterupsi saya untuk menjawab pertanyaan. Bagian ketiga adalah email yang berisi informasi yang harus saya ketahui. Bagian ini adalah bagian yang perlu saya ketahui, tapi tidak menuntut untuk segera diselesaikan. Kemudian, bagian terakhir adalah hal yang harus dikerjakan, namun masih bisa dikerjakan dalam waktu yang lama," sebut Meyer.

Tingkatkan fleksibilitas. Ada banyak kebutuhan yang kita perlukan sebagai pengusaha. Untuk itu, kita perlu lebih fleksibel. Dan, kita pun tak perlu menjadi ahli dari segalanya. Julie Ruvolo, COO dari Solvate, menyebutkan, "Kadang-kadang, menyewa kontraktor atau konsultan akan lebih efisien daripada Anda mengerjakan sendiri segalanya. Lagipula, Anda bisa mendapatkan bantuan ahli yang bisa menyelesaikan masalah tertentu yang sedang Anda hadapi."

Gunakan e-mail untuk menyimpan dokumen. Saat ini, hampir semua orang memiliki email sebagai sarana komunikasi. Dan, hampir setiap hari pula, orang terhubung dengan internet. Karena itu, menyimpan dokumen dalam bentuk e-mail bisa menjadi solusi yang memudahkan untuk berkomunikasi.

Tetap produktif di luar jam kerja. Orang sering mengeluh saat harus lembur. Padahal, pada saat di luar jam kerja, akan muncul banyak hal yang bisa meningkatkan produktivitas kita. Sebab, tanpa beban kerja rutin, kita bisa bebas mengeksplorasi banyak hal yang bisa meningkatkan kemampuan.

Maksimalkan waktu deadline. Kadang, saat memasuki masa tenggat, orang justru terpacu untuk memaksimalkan semua energinya agar pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Karena itu, masa tenggat ini sebenarnya bisa "dimanfaatkan" untuk meningkatkan performa. Krissi Barr, pendiri Barr Corporate Success menyebutkan, "Jika ada pekerjaan yang bisa selesai dalam satu jam, saya biasa memaksanya untuk selesai dalam 40 menit. Dengan memotong waktu dari yang seharusnya, saya bisa bekerja lebih cepat dan lebih fokus."

Jangan lupakan olahraga. Sebagai pengusaha, akan muncul banyak tekanan. Jika tubuh dan pikiran tidak fit, maka bisa jadi kita akan sakit dan mudah stres. Karena itu, sebagai entrepreneur, olahraga tidak boleh dilupakan. Minimal, setengah jam dalam sehari, itu akan menjadi "doping" yang bisa menjaga kesehatan tubuh. 

Hindari multitasking. Memang, bisa melakukan banyak hal sering jadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi, tak selamanya. Sebab, otak kita pun ada batasannya. Karena itu, hindari mengerjakan banyak tugas dalam waktu bersamaan (multitasking). Douglas Merrill, mantan CIO dari Google, mengatakan dengan tegas, "Lakukan satu hal dalam satu waktu, minimalkan kemungkinan perubahan, gunakan otak secara maksimal!"

Sumber : andriewongso.com