Selasa, 14 Februari 2012

Penjualan Sedang Turun Drastis? Jangan Panik, Ada Solusinya!


Pada waktu sedang saya sharing pemasaran dengan mas Febri, salah satu owner Tela-tela, beliau mengatakan bahwa dalam bisnis, ada kalanya sebuah produk akan menurun.
Kemudian saya teringat dengan beberapa produk baru yang dulunya super laku kemudian perlahan-lahan mulai sepi peminatnya dan akhirnya, mati! Bagi yang baru ingin memulai bisnis, masalah itu jadi momok yang menakutkan. Wajar saja.

Mereka takut setelah mereka bersabar membangun bisnis dari kecil hingga besar, tiba-tiba produk mereka tidak disentuh oleh konsumen. Padahal anda perlu tahu bahwa hal itu alamiah. Kalau dalam “bahasa marketing” namanya PLC, singkatan dari Product Life Cycle. 
Setiap produk yang anda buat pasti akan mengalami daur hidup. Di mulai dari perkenalan produk, pertumbuhan produk kematangan produk dan kematian produk. Ok, mari saya jelaskan apa dan bagaimana itu PLC dari kacamata pak Freddy Rangkuti dalam “The Power of Brand”.
1. Fase Perkenalan
Pada fase, ini kondisi usaha anda terhadap produk baru anda masih high cost dan low profit. Tinggi biayanya, baik biaya tetap dan variabel tetapi rendah pendapatannya. Pesaing anda belum banyak,awareness produk anda masih rendah dan permintaannya relatif kecil.
Penyebabnya karena produk anda belum terdistribusi dengan baik. Taktik pemasaran yang tepat kalau kata orang-orang yang pakar di bidang marketing adalah anda mempengaruhi dan mendidik konsumen dengan menggunakan promosi serta pricing yang tepat. Apalagi kalau anda bisa launching produk di momen yang tepat. Kata orang Jogja, tambah cong wel gud…
2.  Fase Pertumbuhan
Pada fase ini, produk anda sudah diterima oleh pasar. Efeknya, penjualannya meningkat. Tapi di sisi lain, pesaing anda mulai memasuki pasar yang anda bidik tadi. Lalu apa yang harus anda lakukan? Seperti biasa nih, kata dokter-dokter pemasaran, anda harus melakukan expand product line.
Apa itu? Menambah variasi produk, melakukan modifikasi produk untuk memperluas positioning yang berkaitan dengan ukuran baru, packaging atau desain kemasan baru (seperti yang sering dilakukan produk shampoo) serta tambahan formula.
Anda juga bisa melakukan strategi market segmentasi, yaitu menjual produk anda dengan berbagai merek dan tetap melakukan promosi yang kreatif.  Jadi anda bisa membidik banyak pasar, begitu…
3. Fase Dewasa
Ketika produk anda memasuki fase ini, terjadi persaingan yang sangat ketat. Penjualan produk anda cenderung stabil dan biasanya, harganya cenderung turun. Jadi anda harus mulai meningkatkan margin produk anda, tetap melakukan promosi, mencari dan mengurangi saluran distribusi anda yang tidak efisien serta mulai mencari pasar baru.
4. Fase Decline
Pada fase decline, penjualan dan profit anda menurun tajam. Anda hanya akan mendapati beberapa pemain dan pembeli yang sangat selektif. Solusinya adalah anda mendesain ulang produk anda, mengurangi biaya, menunda decline, mengurangi inventori dan saluran distribusi serta membatasi promosi untuk selected market.
Saya akan ambilkan satu contoh strategi meningkatkan product life cycle jika sebuah produk sudah mengalami kejenuhan pasar. Sepeda motor Honda dan Yamaha melakukan launching ulang produknya ke negara lain saat produk mereka sudah mengalami, katakanlah fase decline.
Produk lama di suatu negara jika dipindahkan ke negara lain berarti produk tersebut menjadi baru. Efeknya, produk tersebut akan memulai “fase hidupnya” lagi mulai dari perkenalan hingga decline. Selain itu anda bisa melakukan berbagai promosi agar produk yang sudah mengalami decline tergantikan atau diperpanjang umurnya.
Seperti yang dilakukan HM. Sampurna dengan Dji Sam Soe-nya. Saya terpaksa memberi contoh produk ini. Karena saya setuju dengan pendapat MUI bahwa rokok itu haram. Anda lihat saja, manfaat dengan kerusakannya lebih banyak kerusakannya. Lho, kok malah saya berkhotbah, ha..ha..ha.. Tapi nggak papa, sekali-kali kan boleh… 
Kembali ke laptop… Apakah hanya perusahaan besar yang bisa melakukan hal ini? Jawabannya jelas dan tegas, TIDAK! Begini, anda masih ingat kan artikel saya tentang bisnis lobster air tawar? Saya pernah dapat permintaan bibit lobster air tawar dari daerah baru akhir-akhir ini. Kayaknya di sana baru trend. Padahal kalau di Jogja, permintaan bibit sudah habis..bis..bis…
Terlepas dari baik buruknya bisnis tersebut, fenomena tersebut dapat anda ambil pelajarannya kan? Tidak perlu anda ekspansi ke negara lain seperti contoh motor Yamaha dan Honda di atas. Cukup ekspansi ke daerah lain saja.
Jadi sekarang anda jangan takut lagi kalau suatu saat produk anda yang tadinya laris manis kemudian ditinggalkan. Habis manis sepah dibuang, begitu peribahasanya. Sekali lagi saya katakan, hal itu alamiah. So, lakukan selalu inovasi


Sumber : dokterbisnis.net

Bisnis Besar dan Menguntungkan, Dimanakah Engkau Berada?


Sebelumnya saya mohon maaf dikarenakan masih fluktuatifnya letusan gunung Merapi, update berkalaartikel bisnis dan investasi di dokterbisnis.net mulai dari kemarin hingga beberapa waktu ke depan belum bisa kontinyu seperti sedia kala.

Belum lagi isu-isu yang menyesatkan, baik lewat sms atau lewat media yang membuat warga Jogja panik dan satu persatu mulai meninggalkan rumahnya.
Dan bisa ditebak, penjarahanpun terjadi. Memang seperti ini modus operandinya. Menyebarkan berita yang menyesatkan, warga panik dan pergi meninggalkan harta bendanya, kemudian penjarahanpun dilakukan. Benar-benar memancing di air keruh.
Ok, tema kali adalah tentang bisnis apa yang bisa berkembang menjadi besar dan terus menghasilkan keuntungan. Pertanyaan tentang “bisnis apa yang bisa besar dan menguntungkan” selalu saja menjadi“hot question” bagi orang yang ingin memulai bisnis.
Awal saya memulai bisnis, saya dan rekan bisnis saya mencari-cari ide bisnis apa yang bisa besar dan menguntungkan. Mulai dari buka usaha di halaman rumah hingga merancang usaha cuci motor. Waktu itu semuanya nampak seperti bisnis yang kecil.
Sampai kemudian saya terjun di agrobisnis, tepatnya di budidaya udang galah, banyak orang yang mengatakan bahwa bisnis yang saya tekuni adalah bisnis yang besar dan sangat menguntungkan.
Bagaimana tidak, sejak dahulu yang namanya petambak udang image-nya kaya raya, untungnya besar, walaupun resikonya juga besar. Tapi saya harus meluruskan permasalahan yang satu ini. Menurut Robert T. Kiyosaki, masalah bisnis besar atau tidak itu tergantung dari spektrum anda.
Anda tahu spektrum? Spektrum adalah cara pandang anda terhadap sebuah bisnis atau usaha. Anggap saja anda sedang menggeluti usaha bandeng presto. Bagaimana cara pandang anda terhadap usaha tersebut?
Apakah anda ingin usaha bandeng presto yang biasa-biasa saja atau usaha bandeng presto yang menggurita? Anda paham kan maksud saya? Saya beri contoh. Anda tahu burger McDonalds? Awalnya, McDonalds hanya punya satu gerai.
Sekarang anda bisa lihat, ada puluhan bahkan mungkin ratusan gerai McDonalds tersebar di dunia. Bandingkan dengan usaha burger lokal di tempat anda. Bisakah usaha tersebut menyaingi McDonalds? Kemungkinan besar tidak kan?
Saya tidak menyuruh anda untuk mempunyai mimpi setinggi langit dengan membuka usaha seperti yang Ray Kroc, si pendiri McDonalds lakukan. Atau saya menyuruh anda menggunakan leverage dengan mewaralabakan usaha anda. Tidak! Yang saya ingin sampaikan adalah, anda harus tahu spektrum usaha anda.
Walaupun usaha anda hanya “jualan krupuk”, tetap saja usaha anda bisa besar. Usaha krupuk tersebut tergantung spektrum anda. Apakah anda hanya ingin jualan krupuk dengan 2 orang tenaga penjualanyang masuk di tiap gang-gang. Atau anda ingin usaha krupuk anda mempunyai agen yang tersebar se-Indonesia Raya.
Memang benar jenis usaha termasuk faktor yang harus anda perhatikan dalam memilih usaha. Misalkan di tempat anda sudah penuh sesak usaha laundry. Pasar usaha tersebut terlihat sudah jenuh. Anda berencana untuk mencari usaha yang lain yang lebih menggiurkan sekaligus lebih kecil resikonya seperti bisnis internet misalnya.
It’s okey, no problemo… gak ada masalah. Sah-sah saja pilihan anda. Saya juga akan menyarankan hal yang sama. Tapi setelah itu, perhatikan selalu spektrum anda. Karena besar kecilnya usaha anda tergantung spektrum anda. Tentunya dengan ijin  Allah SWT.
Dulu waktu pertama kali saya menebar bibit udang galah, saya hanya punya asumsi pendapatan rata-rata 1 juta per bulan. Di bagi bertiga lagi. Kontradiksi kan dengan apa yang dipersepsikan orang-orang tentang usaha udang galah yang mungkin untungnya segede gunung? Padahal modal saya waktu itu 20 juta.
Tetapi karena sejak saya kenal usaha budidaya lobster air tawar, saya dan teman saya sudah tahu spektrum bisnis kami. Walaupun awalnya perkiraan untung yang kami dapat kecil, kami tetap maju terus pantang mundur.
Dan perlu anda ketahui, di Jogja ada pengusaha udang namanya Mang Engking. Beliau adalah seorang perantauan dari Sukabumi. Awalnya beliau hanya membuka beberapa kolam. Sekarang beliau mampu menjual lebih dari 8 ton tiap satu bulannya dan sudah mempunyai restoran yang disukai Ahmad Dhani. Jelas kan?
Tapi ingat, spektrum selalu membutuhkan konsekuensi, yaitu rencana bisnis matang dan…bertindak! Percuma anda punya spektrum tinggi tapi tidak punya perencanaan bisnis yang matang. Anda bisa lihat artikel saya tentang bahaya meremehkan perencanaan bisnis.
Begitu juga jika anda punya spektrum bisnis yang besar berikut rencana bisnis yang super matang, tapi anda tidak bertindak… Sama juga bohong. Jadi dua-duanya harus anda lakukan. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana spektrum anda?

Sumber : dokterbisnis.net

4 Alasan Mengapa Anda Harus Segera Memulai Bisnis Properti


Kalau kemarin anda berkenalan dengan om Jack dengan ulasan pemasarannya seperti kasus gas elpiji dan riset konsumen, sekarang perkenalkan, nama saya Om Valiy. Saya diajak  oleh om Nip-Nip untuk sharing di sini khususnya masalah belajar bisnis property.
Ok, saya mulai sekarang. Banyak orang bertanya-tanya mengapa seseorang  harus menekuni bisnis properti. Kalau saya pribadi menjawab karena minat.
Tetapi jawaban yang paling tepat adalah LABA. Mari saya coba sarikan permasalahan ini dari beberapa sumber.

1.    Kebutuhan PRIMER
Saat SD kita sering diajarkan tentang 3 kebutuhan pokok atau primer, yaitu pangan, sandang dan papan. Papan atau properti sudah menjadi kebutuhan primer sejak jaman dahulu. Apalagi sekarang sudah bukan jaman batu dimana kita harus tinggal di atas pohon atau di gua-gua. Bisa gatal-gatal digigit semut bos, he..he..he…
Infonya, menurut data dari Kementerian Perumahan Rakyat bahwa pada tahun 2008 tingkat kebutuhan rumah sudah mencapai 1.2 juta unit per tahun. Setiap tahun meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk.
Jenis pasar terbesar berada di segmentasi menengah ke bawah, yaitu sebesar 70% dan baru dipenuhi oleh swasta hanya sebesar 15 % saja. Apalagi tidak semua orang butuh rumah untuk dihuni. Ada yang ingin untuk kebutuhan investasi yang menguntungkan, lindung nilai dan sebagainya. Apapun alasannya, ini adalah sebuah peluang.
2.    Harga Properti Cenderung Naik
Hal ini sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Anda bisa mencoba menanyakan ke lingkungan sekitar anda. Inflasi rata-rata di Indonesia untuk properti sekitar 10%. Mohon diingat, rata-rata di seluruh Indonesia lho ya…
Seandainya mau mengamati lebih detil pada masing-masing daerah atau kota, angkanya akan berbeda. Misal, di Jogja pada kondisi normal bisa mencapai 30% atau Bali, Batam dan kota lainnya. Apresiasi properti terjadi selain karena dipicu faktor waktu seperti di atas, juga dipicu oleh ketersediaan lahan dan permainan harga jual (pricing strategy games) oleh pengembang.
Selain itu Faktor kecilnya ketersediaan lahan baik secara fisik seperti di kota-kota besar yang langka akan lahan kosong atau karena kebijakan dari pemerintah yang membatasi penggunaan lahan untuk perumahan membuat harga properti membumbung tinggi.
Contohnya seperti di Kabupaten Sleman yang membatasi ijin perumahan sehingga mendongkrakharga jual tanah dibandingkan dengan Kabupaten Bantul yang terbuka untuk ijin perumahan.
Cara lain untuk meningkatkan apresiasi pada properti adalah dengan menerapkan permainan harga jual (pricing strategy games) ala developer yang bisa anda baca tuntas pada buku The Property Developer. Atau dengan menciptakan nilai tambah pada properti tersebut seperti yang diajarkan pada buku-buku investasi properti seperti Real Estate 101, Trump University.
Seandainya apresiasi properti tidak terjadi, apakah bisnis properti masih menguntungkan? Ya, anda masih bisa mengandalkan dari arus kas dari properti tersebut dan amortisasi (pembayaran hipotek).
3.    Dapat dimiliki TANPA Menggunakan UANG SENDIRI
Strategi investasi properti dengan meminimalkan modal sendiri dapat anda baca di buku-buku investasi properti yang ada. Sedangkan strategi yang diterapkan oleh pengembang properti adalah negosiasi pembayaran lahan atau menggandeng pemilik lahan sebagai mitra.
4.    LINDUNG NILAI atas BISNIS yang Ada
Menjual aset properti bisa anda gunakan untuk mengurangi kerugian atas bisnis kita lainnya. Logika ini yang diterapkan oleh perbankan ketika meminta agunan berupa properti. Ketika anda tidak membayar hutang maka properti anda akan disita dan dijual.
Ok, sementara ini begitu saja dari saya. Karena keterbatasan “lahan” yang ditetapkan oleh Om Nip-Nip, jika ada kesempatan insya Allah saya lanjutkan ulasan-ulasan cara bisnis properti yang lainnya pada artikel yang akan datang. Bagaimana, ada pertanyaan tentang peluang bisnis property?



Sumber : dokterbisnis.net

Strategi Menjalankan Bisnis Dengan Resiko Kegagalan Kecil


Pelajaran pertama yang harus anda perhatikan apabila anda memulai menjalankan bisnis atau berinvestasi adalah : selalu mempunyai gagasan beresiko rendah sebagai tempat anda jatuh. Apapunjenis bisnis anda, camkan pelajaran bisnis di atas.

Anda tahu maksud dari gagasan beresiko rendah? Jadi begini, misalkan anda ingin usaha abon ikan bandeng. Anggaplah anda ahli dalam dunia per-abon-an.
Anda sudah tahu segmen pasar-nya, tahu bagaimana cara mendatangkan konsumen untuk “berduyun-duyun” membeli produk anda dan menurut anda, produk ini belum ada di pasaran. Sesuatu yang “new” lah.
Kemudian anda siapkan rencana bisnis anda sematang mungkin. Mulai dari memilih lokasi usaha, menyeleksi karyawan, hingga membeli peralatan produksi seperti mesin penyuwir daging dan peniris minyak.
Nah, seandainya nih, produk anda anda gagal. Anda masih bisa mengembalikan investasi yang telah anda tanam. Caranya? Dengan anda merubah produk anda yang tadinya abon ikan bandeng, berubah menjadi usaha abon ayam yang pasarnya sudah jelas.
Semua mesinnya sama, tempat atau lokasi usahanya juga nggak perlu pindah. Karyawannya tinggal dibiasakan menggunakan bahan baku ayam. Jenis pasarnya, anda juga sudah tahu mau dilempar kemana. Wong abon ayam familiar dengan kebanyakan lidah orang dan anda masternya usaha abon… Resiko anda kecil.
Beda ceritanya kalau anda buka usaha bandeng presto, kemudian gagal karena anda nggak bisa memasarkannya. Tiba-tiba anda beralih ke bisnis fotocopy yang menurut anda lebih menjanjikan. Bisa-bisa ntar anda fotocopy KTP konsumen anda menggunakan mesin presto, karena modal anda habis nggak bisa beli mesin fotocopy. Paham kan?
Contoh lainnya, anggaplah anda terjun di bisnis properti. Anda beli rumah dengan tujuan untuk anda jual kembali jika nilainya sudah meningkat. Jika investasi anda tersebut bisa memberikan pemasukan bulanan kepada anda, hal itu merupakan investasi beresiko rendah.
Bahkan jika properti anda nantinya tidak meningkat nilainya, anda tetap bisa mendapatkan kompensasi dari investasi anda dengan mendapatkan uang  tiap bulannya dari menyewakan rumah anda.
Hal itu yang saya dan partner bisnis saya lakukan sewaktu memilih bisnis lobster air tawar. Waktu itu katanya bisnis lobster air tawar merupakan ide bisnis baru yang sangat menjanjikan. Ternyata lambat laun kami menemukan kendala di penetrasi pasar dan nilai atau kelayakan ekonomis usaha tersebut patut dikaji ulang.
Tapi kami tidak lantas serta merta mempercayai informasi bisnis tersebut. Kami sudah ancang-ancang. Jika ternyata kami gagal untuk mengedukasi pasar, kami akan berpindah ke bisnis lainnya yang sudah kami siapkan. Pilihannya kalau tidak ke budidaya lele, kami pindah ke budidaya udang galah yang pasarnya jelas.
Semua ilmu dan piranti yang telah kami beli masih bisa kami gunakan. Bagaimana tidak, medianya sama, tata cara produksi dan panennya hampir sama, cara memijahkannya juga tidak jauh berbeda, tapi pasarnya sudah terjamin. Lha wong begitu kami panen udah ada yang nungguin mau beli, he..he..he..
Sederhananya, gagasan beresiko rendah adalah sesuatu yang anda tahu bisa anda lakukan, titik.  Sekarang pertanyaannya, sudahkah anda menemukan ide bisnis yang beresiko rendah?

Sumber :dokterbisnis.net

New Mave Marketing, Gaya Baru Pemasaran di Era Internet


Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku karangan  Hermawan Kertajaya yang berjudul New Wave Marketing. New Wave Marketing  merupakan ide pemasaran yang dilontarkan oleh Hermawan Kertajaya setelah terjadinya kekacauan ekonomi pada tahun 2008.
Melalui bukunya, Hermawan menyatakan bahwa telah terjadi perubahan pola perilaku masyarakat yang mengakibatkan strategi dan taktik pemasaran ikut berubah.

Salah satu hal terpenting yang mengubah perilaku masyarakat adalah internet yang dengan cepat dan masiv bisa menghubungkan sekian banyak orang dalam waktu yang singkat.
Sehingga hubungan antara perusahaan dengan konsumen tidak lagi vertikal dimana perusahaan berdiri sendiri terpisah dengan konsumen. Tetapi hubungan itu sekarang bersifat horizontal dimana perusahaan harus sejajar dan bersama dengan konsumen.
Sekarang perusahaan bisa disebut telanjang dihadapan konsumennya. Dengan adanya jejaring sosial yang menghubungkan mereka,  kebaikan dan keburukan akan tersebar dengan cepat.
Tentu kita masih ingat kasus yang melibatkan rumah sakit Omni Internasional dengan Prita atau kasus kriminalisasi pejabat KPK yang menunjukkan kekuatan gerakan sosial melalui jejaring sosial lewat media internet.
Dengan adanya pola hubungan yang berbeda itu maka berbeda juga pola pendekatan pemasarannya. Dulu perusahaan akan berusaha mengkotak-kotakan calon konsumen berdasarkan dengan pola perilaku yang mirip, biasa kita sebut segmentasi pasar.
Sekarang dengan adanya jejaring sosial, masyarakat yang mempunyai perilaku dan kesenangan yang sama akan membentuk komunitas tersendiri.
Eniwei, komunitisas ini bisa tercapai dengan dua cara. Pertama dengan cara “by design“, kedua komunitas bisa terbentuk dengan sendirinya, sehingga perusahaan tidak perlu repot-repot mengkotak-kotakkan calon konsumen.
Perusahaan cukup mengamati  komunitas-komunitas yang ada atau dengan inisiatif sendiri membentuk komunitas yang akan dijadikan calon konsumen.
Biasanya, membentuk komunitas ini merupakan salah satu cara untuk membuat konsumen menjadi loyal, seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan otomotif. Harley Davidson yang pertama kali memulainya.
Nah, komunitas-komunitas ini sering kita jumpai dalam bentuk forum-forum yang ada di internet. Misalnya agromania atau indonetwork untuk pelaku bisnis. Sedangkan untuk masyarakat umum, forum kaskus sangat populer di kalangan mereka. Untuk offline, anda bisa lihat komunitas pecinta motor yang sering “nangkring” di pinggir-pinggir jalan di malam minggu.
So, perusahaan sekarang dituntut lebih jujur dan terbuka karena mereka tidak bisa lagi hanya memberikan janji semata kepada konsumen tanpa diikuti dengan pelayanan yang sesuai. Seperti yang sudah dikemukakan di muka, keburukan maupun kebaikan akan lebih mudah tersebar karena sedemikian kuatnya hubungan antar konsumen.
Di sini anda bisa lihat bahwa internet bisa menjadi leverage bagi bisnis anda. Cukup dengan membangun reputasi yang baik maka konsumen akan memberikan rekomendasi kepada teman-teman lainnya.
Dan seperti yang anda tahu, rekomendasi dari orang yang dikenal jauh lebih efektif dibandingkan dengan promosi penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Coba anda ingat berapa kali anda membeli  sesuatu berdasarkan rekomendasi dari orang yang anda kenal.
Yang jelas, tidak semua tentang New Wave Marketing bisa saya ceritakan disini. Kalau ingin lengkapnya, anda mungkin harus membacanya sendiri. Di sana disebutkan tentang konsep 12 C yang merupakan perubahan mulai dari strategi, taktik maupun proses pemasaran.
Beberapa perubahannya seperti segmentasi menjadi komunitisasi, targeting menjadi konfirmasi, positioning menjadi klarifikasi sampai brand yang berubah menjadi karakter.
Tapi intinya, New Wave Marketing merupakan cara untuk membentuk pemasaran yang kuat baik secara online maupun offline. Dan kedepannya, saya akan sampaikan siapa calon konsumen potensial yang siap untuk menerima New Wave Marketing.

Sumber : dokterbisnis.net

Memilih Bentuk Perusahaan yang Aman Bagi Bisnis Anda


Entitas atau bentuk perusahaan merupakan topik bisnis yang jarang dibahas. Padahal memilih struktur  entitas yang tepat untuk sebuah bisnis sama pentingnya dengan memilih mitra yang tepat untuk sebuah usaha.
Kok bisa? Begini, misalkan anda memasuki bisnis dengan katakanlah orang, partner atau mitra yang salah. Maka bisa dipastikan usaha anda mungkin akan gagal di awal. Orang atau mitra yang salah bisa saja membelanjakan uang anda entah kemana rimbanya.

Atau mungkin membuat perusahaan anda berkewajiban atas kontrak bisnis yang tidak bisa anda penuhi, dan bisa jadi menghancurkan semua rekan kerja anda sebelum produk atau jasa pertama dibuat.
Mitra yang salah juga bisa membuat anda tidak terlindungi dan menghabiskan semua usaha serta energi anda. Saya pernah mengalaminya, bermitra dengan orang yang salah. Akhirnya bisnis saya tersebut hancur lebur.
Bukan karena prospek atau pasarnya yang jelek. Tapi karena ulah partner bisnis saya yang “ugal-ugalan”. Sama halnya dengan memilih bentuk perusahaan. Jika anda memilih struktur hukum yang salah, anda bisa digiring menuju jurang kegagalan.
Penjelasannya seperti ini. Saat awal anda mulai, anda mungkin ingin memiliki sebanyak mungkin aset perusahaan dan perlindungan hukum.
Akan tetapi jika anda memilih kepemilikan tunggal atau kemitraan umum, anda beresiko kehilangan semua yang sudah anda bangun dalam bisnis, termasuk semua aset pribadi anda.
Anda tahu kan apa yang dimaksud dengan aset pribadi anda? Yaitu semua kekayaan pribadi anda, termasuk sandal jepit anda, he..he..he.. Penjelasan lengkapnya bisa anda lihat pada artikel saya tentang kelebihan dan kelemahan firma.
Dan perlu anda ketahui, penuntut umum dan pengacara “sangat hobi dan senang” melihat bisnis yang beroperasi dengan bentuk perusahaan kepemilikan tunggal atau kemitraan umum.
Mengapa? Karena mereka bisa “mengkudeta” baik bisnis maupun aset pribadi saat mereka mengajukan tuntutan. Mereka memiliki kebebasan dalam menjangkau semua aset anda.
Maka dari itu, gunakanlah entitas yang bagus seperti perusahaan dengan liabilitas terbatas atau kemitraan terbatas. Entitas atau bentuk perusahaan ini bisa melindungi aset pribadi milik anda walaupun terjadi “serangan” atas bisnis anda.
So, seperti halnya mitra yang tepat, bentuk perusahaan atau entitas yang tepat akan dapat membantu anda mengembangkan perlindungan dan prospek anda di masa depan. Dan saya sangat sarankan anda untuk berkonsultasi dengan pengacara bisnis agar anda benar-benar paham bentuk-bentuk perusahaan yang aman bagi bisnis anda.

Sumber : dokterbisnis.net

4 Jenis Strategi Positioning Produk Untuk Memenangkan Persaingan


Masih bicara masalah strategi positioning (lagi), anda bisa mengembangkan strategi positioning dengan beberapa variabel.
Menurut om Adhy Tristanto dalam bukunya cerdas beriklan, variabel tersebut adalah kategori, citra, fitur produk yang unik atau manfaat.
Eh, sudah tahu definisi positioning kan? Seperti biasa, kalau anda belum tahu, silahkan anda baca artikel DokterBisnis alias DB yang terdahulu tentang segmentasi targeting positioning.

Soalnya kalau anda pendatang baru di blog DB dan kebetulan belum begitu paham tentang positioning bisa berabe. Ntar saya di kira loncat-loncat penjelasannya.
Nah, detailnya anda bisa lihat berikut ini.
Positioning Kategori
Sebuah usaha laundry yang hanya melayani pakaian pria atau misal resto yang khusus melayani orang yang vegetarian bisa membangun strategi positioning-nya berdasarkan kategori produk tersebut. Tetapi, cara ini juga bisa anda pakai untuk produk paritas yang sulit menemukan atau memang tidak memiliki kekhususan, asal klaim anda tersebut belum dipakai pesaing anda.
Positioning Citra
Kalau yang satu ini, anda membuat strategi positioning yang bersifat asosiatif. Contohnya di Jogja, ada sebuah warung pecel yang sukses membangun citranya sebagai tempat makan sekaligus tempat yang paling tepat untuk bernostalgia semasa dulu menjadi mahasiswa.
Cuman masalahnya, strategi positioning citra akan mengalami kegagalan jika anda tidak membangunnya dengan kreatif, pilihan “image”-nya tidak realistik atau anda tidak mengkomunikasikannya dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga anda tidak berhasil membangun asosiasi antara merek dengan citra yang anda kehendaki.
Positioning Fitur Produk yang Unik
Cara ini adalah anda memakai unsur yang unik yang dimiliki produk atau perusahaan anda. Fitur produk tersebut bisa atribut yang nyata (tangible) maupun yang tidak nyata (intangible). Saya akan ambil contoh yang diberikan oleh mas Adhy.
Penerbangan murah adalah atribut yang tidak nyata, tetapi penerbangan yang sederhana dan efisien adalah atribut yang nyata. Kalau anda masih bingung tentang masalah atribut nyata (tangible) dan atribut tidak nyata (intangible), anda bisa baca artikel saya tentang 3 masalah pemasaran.
Positioning Manfaat
Tipe positioning yang satu ini didasarkan pada manfaat, keunggulan yang dimiliki produk dalam memuaskan kebutuhan, keinginan serta selera konsumen anda. Manfaat umumnya berdasarkan pengalaman, bersifat fungsional atau simbolik. Lebih jelasnya tentang masalah manfaat produk, anda bisa baca di sini.
Dah cukup… segitu saja penjelasan saya mengenai strategi positioning produk. Ini sudah kedengaran suara mau adzan Jum’at. Saya mau mandi dulu untuk siap-siap.


Sumber : dokterbisnis.net

Sabtu, 11 Februari 2012

Peluang Bisnis Mesin Pengering Pakaian

Usaha laundry yang menjamur menguntungkan produsen mesin pengering pakaian. Pembuatan alat ini memang agak rumit, tapi tidak butuh keahlian khusus untuk memulai bisnis ini. Margin untung besar dan balik modal cepat. Sebagian pelaku bisnis panen rezeki ketika musim hujan datang. Salah satunya adalah pengusaha penatu alias laundry. Sebagian orang lebih memilih memanfaatkan jasa cuci pakaian lantaran tak ingin repot memikirkan pakaian akan kering atau tidak. Alhasil, saat musim hujan, jumlah order yang tiba ke jasa penatu juga bertumpuk.

Problem ketidakpastian nasib pakaian di musim hujan yang menghantui kebanyakan orang sebenarnya juga terjadi pada pengusaha laundry. Hasil cucian tak cepat kering jika hanya mengandalkan proses pengeringan lewat sinar matahari. Akibatnya, mereka harus mencari cara agar tetap bisa melayani konsumen tepat waktu. Salah satunya dengan memanfaatkan mesin khusus pengering.

Tak heran, permintaan mesin pengering pakaian meningkat di menjelang musim hujan. Beberapa produsen elektronik terkenal memang menawarkan mesin pengering pakaian. Tapi, berhubung kompetisi sangat ketat, para pemain bisnis penatu ingin lebih efisien. Akhirnya mereka mengincar mesin-mesin pengering pakaian bikinan dalam negeri yang sederhana namun memadai kebutuhan.

Tak urung para produsen mesin pengering pakaian dengan teknologi lebih sederhana yang kebagian rezeki. Maklum, mereka menjual mesin dengan harga relatif murah. Sistem pengering mesin ini agak berbeda dengan mesin pengering pada mesin cuci. Mesin berbentuk semacam lemari ini mengeringkan pakaian dalam posisi digantung pada hanger. Proses pengeringan menggunakan uap panas. Mesin pengering ini menggunakan gas elpiji atau listrik sebagai bahan bakar. Prinsipnya, panas dari listrik atau gas dihubungkan instrumen khusus yang bakal menimbulkan uap panas.

Harga mesin pengering ini beragam. Hadi Soerono, pemilik Raja Laundry di Surabaya misalnya, menjual mesin ini seharga Rp 1,1 juta - Rp 7,2 juta per unit, tergantung kapasitas dan daya yang digunakan. Saat musim hujan datang, ia mengaku rata-rata bisa mendapatkan pesanan 100 unit mesin pengering dengan omzet antara Rp 500 juta sampai Rp 800 juta.

Hedmi, salah satu produsen mesin pengering di Jambi bilang, meski baru mulai memproduksi mesin sekitar 4,5 bulan lalu, kini ia telah mendapatkan pesanan 10 unit mesin per bulan. Dia menjual mesin pengering buatannya Rp 5,5 juta per unit. Omzet penjualan Hedmi di atas Rp 50 juta per bulan.


Membidik pebisnis jasa cuci pakaian

Target pasar mesin pengering ini lebih banyak pengusaha laundry. Tapi, tidak sedikit perorangan yang membutuhkan mesin pengering pakaian khusus. Alat ini cukup menguntungkan lantaran kapasitasnya cukup besar, bahkan bisa mengeringkan sampai 200 kilogram (kg). Mesin ini juga menggunakan daya listrik rendah, mulai 60 watt dan elpiji.

Hadi mengaku, peminat mesin ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Tapi, rata-rata pembelinya memang masih berasal di beberapa kota di Jawa. “Baru-baru ini pembeli saya banyak dari Kalimantan dan Sulawesi,” papar dia.

Namun, sebagian besar pembelinya berasal dari wilayah Sumatra. Maklum, bentuk fisik mesinnya yang cukup besar sangat menyulitkan untuk pengiriman barang ke luar pulau. “Ongkos pengirimannya menjadi lebih mahal,” kata dia.

Bisnis ini tak hanya menarik karena hasil yang diraup cukup besar. Keuntungan bersih yang dikantongi lumayan. Para produsen mengaku meraup keuntungan 25% - 30% dari omzet.


• Modal awal

Memulai bisnis ini sebenarnya tak membutuhkan modal besar. Hadi, misalnya, mengaku hanya mengeluarkan dana sekitar Rp 5 juta. Dana tersebut dia pakai untuk membeli perkakas pertukangan, seperti gergaji mesin, mesin bor, mesin amplas, mesin untuk melubangi, kikir besar, peralatan kelistrikan, peralatan elektronik, dan beberapa lainnya.

Setelah peralatan siap, Anda harus menyiapkan tempat sebagai bengkel untuk memproduksi mesin ini. Bengkel tidak membutuhkan lahan luas, cukup sekitar 200 meter persegi.


• Proses pembuatan

Pada prinsipnya, membuat mesin pengering hanyalah merakit perangkat yang sudah ada di pasar. Beberapa bahan baku yang dibutuhkan antara lain besi atau kayu sebagai rangka dan plywood atau seng yang digunakan untuk dinding lemari pemanas pakaian.

Selain itu, ada beberapa bahan lain pengantar panas. Paijo, produsen mesin pemanas di Sulawesi, menggunakan elemen untuk memanaskan. Elemen yang dia maksud serupa dengan onderdil yang dipakai dalam kumparan setrika atau microwave. Model serupa juga dibikin oleh Hadi.

Bahan lain yang digunakan adalah kipas angin untuk menyebar panas, thermostat sebagai pengatur daya secara otomatis, ampere meter, transistor, dan beberapa kebutuhan lain. Kalau ingin lebih canggih, peralatan tersebut harus ditambah sensor basah untuk memastikan pakaian sudah kering. Semua peralatan tersebut gampang didapat di pasar.

Hal pertama sebelum memulai membuat alat ini adalah menentukan kapasitas mesin. Langkah awal ini sangat penting untuk membuat seberapa besar ukuran boks atau lemari menampung. Semakin besar kapasitas tampung pengering, semakin besar pula daya yang dibutuhkan. Itu berarti harga komponen dan bahan baku juga semakin besar.

Sebagai contoh, mesin pengering berkapasitas 20 kg membutuhkan biaya bahan baku plywood seharga Rp 700.000, belum termasuk komponen dalam. Harga jualnya Rp 2,5 juta. Ini tanpa memperhitungkan ongkos tukang.

Anda bisa saja meminta bengkel untuk membuatkan perkakas ini dengan spesifikasi yang Anda tentukan sendiri. Tapi, menurut hitungan Hadi, biaya bengkel ini bisa sekitar Rp 1,25 juta. “Kalau semua dibuat sendiri, bisa-bisa sulit memenuhi pesanan,” papar dia.

Boks mesin ini harus dilengkapi pintu engsel dan ventilasi udara. Dalam lemari itu ditempatkan mesin pemanas, kipas, dan pengontrol sistem daya. Agar mesin bisa beroperasi secara otomatis perlu sistem pengontrol berupa thermostat atau sensor basah seperti yang dilakukan pada magic jar. Sensor akan mematikan mesin saat pakaian sudah kering. “Sensor tersebut harus dijepitkan pada pakaian yang paling lama kering,” saran Paijo.


• Karyawan

Meski proses pembuatan terkesan rumit, pada dasarnya proses perakitan mesin ini cukup gampang. Para pembuat mesin ini mengaku tidak membutuhkan keahlian khusus. “Saya dulu hanya seorang satpam dan mencoba untuk merakitnya,” ujar Hadi yang terjun ke bisnis ini sejak empat tahun lalu. Begitu pula dengan Hedmi yang sebelumnya merupakan pemilik bengkel.

Kebutuhan karyawan untuk memproduksi mesin ini sangat tergantung kapasitas produksi. Hadi mengaku, saat ini, mempekerjakan sekitar 16 orang karyawan dengan kapasitas produksi 100 mesin per bulan.

Paijo bilang, dua orang karyawan sebenarnya sudah bisa membuat mesin pengering pakaian. Hanya saja, jumlah produksi juga tidak akan banyak. Selama satu hari, mungkin hanya ada satu mesin yang bisa dihasilkan. Tak semua karyawan harus mengerti tentang teknologi mesin. Dia menyarankan, cukup satu orang pegawai yang tahu teknologi mesin pengering pakaian. “Biaya upah menjadi lebih besar kalau semua ahli,” kata dia.

Meski bisa dikerjakan orang lain, ada baiknya Anda juga memahami cara kerjanya. “Saya memang tidak mengerti benar masalah elektronika, tapi saya selalu memberi pengarahan kepada karyawan tentang kemajuan teknologi yang harus ditambahkan,” terang Hadi, juragan penyuplai mesin pengering asal Surabaya ini.


• Tes kualitas mesin

Sebelum dipasarkan, Anda harus melakukan tes untuk memastikan alat berfungsi baik, aman dan berkualitas. “Dulu, saya memang tidak langsung menjualnya karena semula untuk kebutuhan laundry sendiri,” aku Hadi. Tapi, berhubung banyak orang tertarik, ia membuatnya secara massal.

Hadi membutuhkan cukup banyak waktu untuk meriset kemampuan mesin sebelum memasarkan. Meski menjamin kualitas bagus, dia tak langsung mendapatkan pembeli. “Saya mencoba memasarkan melalui berbagai media,” terang dia.

Paijo yakin, dengan pengenalan produk yang cukup luas, seharusnya produk mesin pengering pakaian ini gampang diterima pasar. Meski tidak memproduksi secara massal, setiap bulan, Paijo mengaku selalu ada yang memesan mesin. “Rata-rata mereka adalah pengusaha laundry,” tegas dia.

Begitu bisnis ini sudah jalan, para pelaku sepakat bisa balik modal dengan cukup cepat, bahkan dengan satu produksi mesin setiap bulan. Maklum margin satu mesin 25%-30%. Cuma, butuh waktu untuk mengenalkan alat ini ke pasar.

Nah, siapa tergoda turut memanfaatkan musim hujan?



(sumber : kontan online)


Kotoran Kelelawar Tak Sekotor Potensi Bisnisnya

Kita acap tak peduli pada nilai kotoran hewan. Padahal, kandungan senyawa organik yang ada pada kotoran itu bisa diolah menjadi pupuk. Seperti kotoran kelelawar yang hidup di dalam gua bisa menjadi pupuk yang menggantikan peran pupuk kimia, seperti urea dan NPK.
Biarpun merupakan sisa pencernaan, sejumlah kotoran hewan justru bermanfaat. Bahkan, kotoran itu memiliki nilai ekonomi tinggi, hingga bisa mendatangkan rupiah. Seperti kotoran hewan lainnya, salah satu kotoran hewan yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk adalah kotoran kelelawar.

Kotoran mamalia yang bisa terbang ini, khususnya yang hidup di gua-gua, mengandung senyawa organik, seperti nitrogen, fosfor, dan potasium yang sangat bagus untuk mendukung pertumbuhan, merangsang akar, pembungaan, serta memperkuat batang tanaman.

Adalah Adi Nugraha, pemilik Nusa Palapa Group yang mencoba berbisnis di pupuk dari kotoran kelelawar. Sejak dua tahun lalu, ia memproduksi pupuk dari kotoran kelelawar.

Adi mengambil bahan baku, kotoran kelelawar dari gua-gua di sepanjang pesisir selatan Jawa Tengah, seperti Cilacap, Kebumen dan Nusa Kambangan. "Kami tidak mengambil kotoran kelelawar yang hidup di rumah-rumah tetapi kelelawar yang tinggal di gua-gua," kata Adi.

Alasannya, kotoran kelelawar yang di rumah-rumah kadar asamnya cukup tinggi. Berbeda dengan kelelawar yang hidup di gua, karena kotoran ini bercampur dengan zat kapur yang ada di dalam gua tersebut.

Cara pembuatan pun relatif mudah. Adi tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli alat. Setelah mengambil kotoran kelelawar di gua, Adi lantas menjemurnya. Setelah dijemur, kotoran kelelawar diayak supaya gumpalan kotoran itu terpecah menjadi butiran. Selesai proses tersebut, sampailah pada tahap fermentasi dengan menambahkan bakteri.

Permintaan pupuk kotoran kelelawar ini pun terus bertambah setiap tahun. Maklum, harga pupuk jenis ini lebih ekonomis. Selain itu, pupuk kotoran kelelawar bisa menggantikan pupuk kimia lainnya, seperti NPK dan urea. Harga per kilogram pupuk NPK mencapai Rp 10.000, sementara Adi menjual kotoran kelelawar dengan harga Rp 7.500 per kilogram.

Hanya saja, produksi pupuk ini sangat terbatas. Pasalnya, bahan baku pupuk sangat tergantung dari kotoran yang tersedia di dalam gua. Jika kemarau tiba, ia hanya memproduksi pupuk kotoran kelelawar dalam jumlah sedikit. Sebaliknya, bila musim hujan datang, bahan baku pun berlimpah. "Jika dipukul rata, produksi kami ton per bulan," kata Adi. Alhasil, setiap bulannya, Adi meraup omzet sekitar Rp 7,5 juta.

Selain untuk petani lokal, Adi juga menjual pupuk berbagai perkebunan. Sayang, pemasaran masih terbatas di wilayah Jawa Tengah.

Setali tiga uang dengan Adi, Mochammad Maulana, pemilik CV Gunung Mas Gresik juga menggarap bisnis pupuk kotoran kelelawar. Pria yang memiliki panggilan akrab Maulana ini mendapatkan kotoran kelelawar dari beberapa gua di gugusan perbukitan yang ada di kawasan Punggungan Merkawang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga delapan kuintal pupuk kotoran kelelawar. Dus, dalam satu bulan ia bisa menghasilkan hingga 2,4 ton pupuk. Maulana mengaku, dalam sebulan bisa mengantongi omzet penjualan pupuk Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.


(sumber : kontan online)


Bisnis Es Pisang Ijo Ala Mualaf Jerman

Es pisang ijo saat ini sudah menjadi makanan populer bagi masyarakat Indonesia. Saking populernya, makanan khas Makassar ini banyak dikemas dengan berbagai merek dan kerjasama bisnis atau business opportunity (BO) seperti Pisang Ijo Jusmine, Aladin dan lain-lain.
Nah, es pisang ijo yang ini agak unik karena dimiliki oleh orang Jerman yang bekerjasama dengan pengusaha kecil lokal. Adalah Jan P. Jacobsen, pria 24 tahun asal Jerman yang sejak awal tahun ini menggeluti koperasi atau kemitraan Es Pisang Ijo Hidayah

Cerita Jocobsen berbisnis pisang ijo hidayah cukup panjang, setidaknya dimulai 2,5 tahun lalu ketika ia memutuskan untuk memeluk Islam. Semenjak itu, namanya berganti menjadi Muhammad Saad. Hal ini juga yang menginspirasinya untuk memberi nama Es Pisang Ijo-nya dengan nama Hidayah.

Pria kelahiran 14 Agustus 1987 ini mengenyam pendidikan di Berlin School of Economics and Law dan di Nanyang Business School.

Singkat cerita, ia ke Indonesia kemudian bergabung dalam koperasi pondok pesantren muallaf Indonesia, Bintaro. Disinilah, Saad menemukan visinya yaitu ingin berbagi pengetahuan soal bisnis dan mengembangkan koperasi termasuk dalam bisnis pisang ijo agar terciptanya peluang dan kesempatan kerja.

Di pesantren muallaf, Saad mulai bergabung pada Februari 2011. Di sini ia diberikan kebebasan untuk menciptakan kreasinya dalam mengembangkan bisnis.

Bisnis pisang ijo itu sendiri tercetus ketika ia sedang berjalan-jalan jajan kuliner di kawasan Ciputat Tangerang. Ia bertemu dengan Ayun, yang merupakan penjual pisang ijo dan nasi.

Ayun merupakan salah satu korban kerusuhan Ambon belasan tahun lalu. Rupanya Saad tergerak untuk mengembangkan bisnis pisang ijo Ayun yang selama ini masih dikelola secara konvesional.

Mulai Maret 2011, Saad dan Ayun bekerjasama mengembangkan bisnis pisang ijo. Melalui bendera Pisang Ijo Hidayah, Ayun berperan sebagai mitra penyuplai pisang ijo sementara Saad dengan bekal ilmu bisnisnya, ia menjadi pemilik sekaligus pelaksana dari bisnis ini.

Walhasil, dalam hitungan bulan, ia berhasil membuka belasan gerai melalui mitra-mitranya antaralain di Pondok Indah dan lokasi lainnya. Es pisang ijo hidayah berkembang karena kerja kerasnya.

Namun ia tak mau berpuas diri, sejak diluncurkan Maret lalu ia gencar menawarkan konsep bisnisnya ke masyarakat. Menurutnya saat ini bisnis Es Pisang Ijo Hidayat bisa dimiliki oleh siapa saja sebagai investor.

"Dengan Rp 6,5 juta, sudah bisa bergabung dengan bisnis Es Pisang Ijo Hidayah. Ini investasi yang kecil namun dengan hasil yang maksimal," jelas Saad.

Ia mengatakan es pisang ijo sangat mudah diterima pasar sebagai makanan tradisional, apalagi rasanya begitu khas. Dengan percaya diri, Saad menuturkan berdasarkan pengalaman rekan mitranya setidaknya balik modal sudah tercapai dalam tiga bulan.

Para investor bisa mendapat keuntungan yang menjanjikan dan tak perlu pusing-pusing dikenakan biaya kemitraan atau semacam franchise atau royalty fee. Semua keuntungan akan bersih diterima oleh investor.

Ia menjelaskan paket investasi Rp 6,5juta, investor akan mendapatkan 1 unit booth, Paket perlengkapan booth lengkap, siap jualan, Baju Seragam karyawan, Paket promosi (sticker, flyer, banner)

Saad mengatakan kerjasama produk es pisang ijo hidayah menawarkan konsep yang berbeda misalnya soal karyawan atau tenaga penjual, ia bisa menyediakannya. Sehingga para investor tak perlu repot-repot mencari karyawan.

"Kita juga akan training karyawan," katanya.

Bisnis pisang ijo hidayah seperti kebanyakan business opportunity lainnya juga berkomitmen menyediakan stok bahan baku utama. Juga melakukan survey dan fasilitas yang dibutuhkan untuk lokasi strategis seperti kampus, perumahan, pusat perbelanjaan).

Sebagai ilustrasi, Saad menuturkan dengan modal Rp 6,5 juta, untuk bisa mencapai balik modal dalam waktu 3 bulan maka omzet harian harus tercapai Rp 500.000 atau omzet bulanan Rp 15 juta. Harga pisang ijo yang dijual ke konsumen Rp 10.000 dengan modal Rp 8000 per porsi, maka margin bersih yang bisa diraup sekitar 15% setelah dipotong modal bahan baku, sewa tempat, karyawan dan overhead.

Jika dalam sebulan omset bulanan tercapai Rp 15 juta maka dengan asumsi margin 15% atau setara Rp 2,250 juta per bulan. Dipastikan modal Rp 6,5 juta bisa balik dalam waktu 3 bulan.




(sumber : detikfinance)


Ayo Menjajal Yomart

Di berbagai kota kabupaten bahkan kecamatan di Jawa Barat, cukup mudah menjumpai minimarket Yomart. Tapi kalau  masih merasa asing dengan nama ini, tak usah susah-susah. Anda tahu Yogya Department Store, bukan? Yakni salah satu dari sedikit perusahaan ritel domestik yang terus bertahan dan bahkan berkembang selama seperempat abad terakhir? Nah, Yomart adalah jaringan minimarket yang dikembangkan oleh Yogya itu.

Dikembangkan sejak enam tahun lalu, pada awalnya kehadiran Yomart dimaksudkan untuk membentengi pangsa pasar mereka dari  serbuan peritel asing. Bukan rahasia lagi, Jawa Barat merupakan basis utama Yogya Group dan sampai sekarang pangsa pasar mereka di daerah ini relatif tidak terusik. Itu pula yang ikut mendorong pertumbuhan jaringan minimarket Yomart. Dalam enam tahun itu, Yomart telah mencapai 250 minimarket, sebagian besar berada di Jawa Barat, terutama di kota kabupaten seperti Bandung, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Subang, Purwakarta, Majalengka, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. “Walau pun kehadiran peritel asing makin gencar di Tanah Air, tetapi pangsa pasar Yogya di Jawa Barat relatif tidak terusik. Begitu pula dengan jaringan Yomart. Terus kami kembangkan walau pun jaringan minimarket lain berusaha masuk,” kata Theo E. Maulana, asisten direktur pengembangan usaha PT Yomart Rukun Selalu (YSR).

Kini Yomart mencoba melangkah lebih jauh. Ke depan, jaringan minimarket ini menargetkan akan menambah gerai baru paling tidak 100 buah di Jawa Barat, Jabodetabek dan Jawa Timur. Pengembangan itu dilakukan dengan pola waralaba yang sudah mereka jalankan selama ini. Perlu digarisbawahi bahwa dari 250 buah minimarket Yomart dewasa ini, baru 72 gerai yang merupakan waralaba. Sisanya dikelola sendiri oleh perusahaan.


Membidik Kota Kecamatan dan Kabupaten

“Kami banyak membidik kota-kota kabupaten dan kecamatan. Karena itu konsep gerai kami pun disesuaikan dengan potensi wilayah semacam itu,” kata Theo. Antara lain ukuran mau pun fasilitas minimaket yang mereka tawarkan diusahakan seefisien mungkin. Itu bisa dalam bentuk gerai yang benar-benar mini dengan interior yang hemat listrik. “Misalnya, kami mempunyai konsep gerai yang lebih terbuka sehingga tidak membutuhkan terlalu banyak AC, dan dibantu dengan kipas angin,” kata Theo.

Sebagai minimarket yang membidik kota-kota kabupaten bahkan kecamatan, konsep minimarket Yomart juga disesuaikan denganpotensi pasar yang akan dibidik itu. Produk-produk yang terpajang digerai Yomart lebih difokuskan pada kebutuhan reguler pelanggannya. Jika umumnya minimarket yang ada membiarkan pelanggan memutuskan apa yang akan dibelinya setelah memasuki gerai, konsep yang ditawarkan Yomart sedikit berbeda. Mereka lebih mengantisipasi kebutuhan pelanggan yang secara reguler dibutuhkan dan dibeli. “Hal ini sesuai dengan lingkungan minimarket tersebut, yakni kota kecamatan atau kabupaten,” kata Theo.

Untuk mendukung ini, Yomart siap memasok produk-produk dengan harga bersaing sekaligus dengan kecepatan distribusi dan pengalaman Yogya Group sebagai sebuah perusahaan ritel berskala nasional sudah merupakan jaminan pula. “Dengan dukungan beragam pemasok berskala nasional dan lokal, Yomart senantiasa mampu menyajikan berbagai produk dengan tingkat penj ualan tinggi,” tambah Theo.

Skema Waralaba yang Ditawarkan

Salah satu skema waralaba yang ditawarkan adalah jenis gerai yang disebut EC Store. Ini adalah gerai minimarket Yomart yang memakan luas toko mulai dari 60 meter hingga 100 meter. Nilai investasi (di luar sewa tempat) berkisar dari Rp314 juta hingga Rp355 juta, tergantung luas toko dan jumlah raknya (lihat tabel perkiraan Investasi (Swadana) EC Store). Luas toko juga sekaligus menentukan total item produk, yang berkisar dari 2256 item sampai 3.200 item.

Ke dalam nilai investasi yang disebutkan di atas meliputi fee waralaba selama tujuh tahun, renovasi, mekanikal dan listrik (mechanical & electrical), termasuk AC, pengadaan inventaris toko, komputer dan pengadaan sistem operasi Yomart, biaya perizinan dan biaya promosi grand opening toko. Pihak pewaralaba hanya akan mengutip royalti fee untuk pendapatan bersih di atas Rp100 juta. (lihat tabel Royalti Fee EC Store).                                         

Menurut Theo, rata-rata balik modal Yomart tidak lebih dari tiga tahun. “Kalau break event point (BEP) operasional, malah kita haruskan tercapai sejak bulan pertama,” kata Theo. Rata-rata jumlah tenaga kerja per gerai 6-7 orang yang kesemuanya direkrut dan ditraining oleh pewaralaba. “Terwaralaba dapat mengusulkan orang-orang yang akan bekerja di gerai tersebut tetapi tetap harus melewati seleksi dan training,” kata Theo. Demikian juga dengan pengelolaan sehari-hari. Pihak terwaralaba berhak mendapatkan informasi dan laporan namun yang menjalankannya adalah manajer dan karyawan yang ditunjuk oleh pewaralaba.

Hingga sejauh ini, menurut Theo, tingkat kegagalan yang terjadi sangat kecil. “Tidak sampai satu persen,” kata Theo. Dan sebagian besar kegagalan yang terjadi, menurut dia, karena kesalahan rekrutmen. Maksudnya, banyak diantara terwaralaba belum memahami seluk-beluk bisnis ritel sehingga mempunyai ekspektasi yang tak lazim. “Misalnya, mereka mengharapkan bisnis ritel itu sebagai penghasil fixed income. Padahal, dimana-mana pendapatan dari bisnis ritel berfluktuasi,” kata Theo.
                                         
Selain minimarket dengan konsep ini, juga skema waralaba lain yang menelan investasi lebih kecil. Skema ini diberi nama Yomart Express dengan luas toko lebih 18 meter dengan nilai investasi Rp100 juta. Bentuknya berupa kios atau minimarket yang sangat ini. Biasanya lokasi yang dibidik adalah area publik seperti stasiun kereta api, terminal,  gedung perkantoran, rumah sakit dan sejenisnya. Untuk kerjasama semacam ini sebagian besar dilaksanakan dengan pihak yang terkait dengan area publik tersebut, apakah itu koperasi karyawan atau perorangan yang mendapat izin menggunakan area publik tersebut.

Menurut Theo, sebetulnya kalkulasi mengenai nilai investasi yang tercantum dalam penawaran mereka sesungguhnya bukan harga mati. Masih dapat dinegosiasikan namun yang paling utama adalah kesungguhan serta pemahaman calon terwaralaba terhadap bisnis ritel itu sendiri. (Eben Ezer Siadari, Majalah DUIT No. 07/IV/Juli 2009)

Yomart Franchise Center
Jl Jakarta No 53 Bandung
Telp 022 7230927
CP 08122052736 (Kiki)


Kurir Mania, Bisa Kirim Apa Saja

Jasa pengiriman tidak selalu identik dengan pengiriman skala besar atau pengiriman dokumen superpenting. Ada juga jasa kurir yang mengirimkan barang-barang sederhana seperti belanjaan, kue-kue, hingga air susu ibu. Omzet bisnis ini juga tak besar, tapi lumayan, lho. Anda butuh asisten yang siap setiap saat untuk mengantar aneka barang kebutuhan Anda? Tak perlu bingung, kini muncul berbagai jenis usaha jasa kurir yang bersedia untuk mengantarkan berbagai jenis barang, mulai dokumen, belanjaan, bahkan hingga mengantar air susu ibu.
Nah, salah satu pengusaha jasa kurir itu adalah Bayu Radityo. Jebolan Akademi Kesejahteraan Rakyat Tarakanita, Yogyakarta, ini sejak 2009 lalu sudah menekuni bisnis kurir aneka jenis barang yang kelihatan remeh-temeh ini.

Melalui perusahaan bernama Kurir Mania di kawasan Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Bayu bersama 10 karyawannya siap menjemput dan mengirimkan barang milik konsumen untuk wilayah sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). "Kami bisa mengirim apa saja, mulai dokumen penting sampai air susu ibu," jelas Bayu.

Bayu menggeluti bisnis ini setelah terinspirasi ulah rekan-rekannya yang sering titip untuk pesanan kue-kue atau barang secara online dari Yogyakarta menuju Jakarta. "Tahun 2009 akhirnya saya putuskan untuk buka jasa kurir ini," terang Bayu.

Usaha itu ternyata berkembang. Bahkan kini Bayu mampu mempekerjakan 10 orang plus memiliki lima unit sepeda motor sebagai moda transportasi pengiriman.

Bayu menjanjikan, dia hanya memberi waktu maksimal selama tiga jam untuk penjemputan dan pengiriman barang. Nah, kalau Anda butuh, tinggal angkat telepon, tunjukkan tempat penjemputan barang dan lokasi pengiriman. "Pelanggan tak usah repot mengantar barang ke kami," ujar Bayu.

Selain jemput dan antar barang, Bayu juga memberikan fasilitas tambahan, yakni membeli barang pesanan dan mengantarkan ke pelanggan. "Kami seperti asisten yang siap membelikan barang yang dibutuhkan dan mengantarkannya langsung, selain itu kami juga bisa mengambil belanjaan yang sudah diorder," imbuh pria berusia 27 tahun ini.

Dalam sehari, seorang kurir Bayu mampu mengirimkan barang hingga ke enam alamat, dengan kapasitas angkut sebanyak 15 kg. Soal ongkos, berkisar antara

Rp 25.000 hingga Rp 60.000 untuk satu pengiriman barang dan dokumen, dan antara Rp 35.000 hingga Rp 90.000 untuk pengiriman makanan. "Mahal murah tergantung jarak," ujar Bayu.

Dalam sebulan, dari usaha jasa ini, Bayu bisa meraup omzet hingga Rp 25 juta dengan margin laba sebesar 30%. Namun di saat hari besar keagamaan, omzet dia bisa melesat menjadi dua kali lipat. "Sampai saat ini 70% pelanggan menggunakan jasa untuk pengiriman makanan dan kue," tandas Bayu.

Selain Bayu, Wahyu Aun juga berbisnis serupa dengan nama Jasa Berkah di Bekasi, Jawa Barat. Namun Wahyu fokus pada pengiriman makanan. "Karena saya melihat untuk kuliner dan bahan makanan akan selalu prospektif," ujar Wahyu.

Wahyu membuka usaha jasa kurir ini sejak 2007. Dari usaha ini, Wahyu menangguk omzet Rp 20 juta per bulan. Kalau pas Lebaran atau liburan akhir tahun, omzet dia bisa melesat 50% dari saat normal.

Selain melayani jasa kurir di wilayah Jabodetabek, Wahyu juga melayani pengiriman hingga Bandung dan Purwakarta. Dengan delapan karyawan dan lima motor pendukung, Wahyu sanggup mengantar barang sekaligus dengan berat hingga 20 kg.


(sumber : kontan online)